Senin, 28 Maret 2011

GASTRITIS

NI KOMANG SUKARIANI
04. 08. 2117
E/KP/VI

BAB I
LANDASAN TEORI

1.1 DEFINISI GASTRITIS

Gastritis merupakan radang pada jaringan dinding lambung yang timbul akibat nfeksi virus atau bakteri patogen yang masuk ke dalam saluran pencernaan. Namun gastritis juga dapat timbul setelah minum alkohol atau kopi serta memakan makanan yang merangsang, pedas, atau sulit dicerna.
Inflamasi akut mukosa lambung pada sebagian besar kasus merupakan penyakit ringan dan sembuh sempurna. Salah satu gastritis akut yang manisfestasi klinisnya dapat berbentuk penyakit berat adalah gastritis erosif atau gastritis hemoragik. Disebut gastritis hemoragik karena pada penyakit ini akan dijumpai perdarahan mukosa lambung dalam berbagai derajat dan terjadi erosi yang berarti hilangnay kontinuitas mukosa lambung pada beberapa tempat mukosa lambung tersebut.



1.2 ANATOMI FISIOLOGI
Seluruh mekanisme yang menimbulkan gastritis erosif karena keadaan-keadaan klinis yang berat belum diketahui benar. Faktor-faktor yang penting adalah iskemia pada mukosa gaster, disamping faktor pepsin, refluks empedu dan cairan pankreas.
Aspirin dan obat antiinfalamasi nonsteroid merusak mukosa lambung melalui beberapa mekanisme. Obat-obat ini menghambat aktifitas siklooksigenese mukosa. Siklooksigenase merupakan enzim yang penting untuk pembentukan prostagglandin dari asam arakidonat. Prostaglandin mukosa merupakan salah satu faktor defensif mukosa lambung yang amat penting. Selain menghambat produksi prostaglandin mukosa, aspirin dan obat anti inflamasi nonsteroid tertentu dapat merusak mukosa secara topikal. Kerusakan topikal terjadi karena kandungan asam dalam obat tersebut bersifat korosif sehingga dapat merusak sel-sel epitel mukosa. Pemberian aspirin dan obat antiinflamasi nonseteroid juga dapat menurunkan sekresi bikarbonat dan mukus oleh lambung, sehingga kemampuan faktor defensif terganggu.
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan rusaknya mukosa lambung adalah :
1. Kerusakan mukosa barier sehingga difusi balik ion H + meninggi
2. Perfusi mukosa lambung yang terganggu
3. Jumlah asam lambung.
Faktor yang saling berhubungan, misalnya stress fisik yang dapat menyebabkan perfusi mukosa lambung terganggu, sehingga timbul daerah-daerah infrak kecil. Di samping itu, sekresi asam lambung juga dipicu. Pada gastritis refluks, gastritis karena bahan kimia bahan, obat, mucosal barier rusak, menyebabkan difusi balik ion H+ meninggi. Suasana asam yang terdapat pada lumen lambung akan mempercepat kerusakan mucosal barrier oleh cairan usus.


1.3 ETIOLOGI APPENDICITIES
Gastritis akut dapat terjadi tanpa diketahui penyebabnya. Pada sebagian besar kasus, gastritis erosif menyertai timbulnya keadaan klinis yang berat. Keadaan klinis yang sering menimbulkan gastritis erosif misalnya trauma yang luas, operasi besar, gagal ginjal, gagal napas, penyakit hati yang berat, rejatan, luka bakar yang luas, trauma kepala, dan septikemia. Kira-kira 80-90% pasien yang dirawat diruang intensif menderita gastritis akut erosif ini. Gastritis akut jenis ini sering disebut akut stress.
Penyebab penyakit lain dari penyakit antara lain :
4. Obat analgesik antiinfalamasi, terutama aspirin
5. Bahan kimia, misalnya lisol
6. Merokok
7. Alkohol
8. Refluk usus lambung
9. Endotoksin


1.4 MANIFESTASI KLINIS
Gambaran gastritis akut sangat berfariasi, mulai dari sangat ringan sampai berat yang dapt membawa kematian. Pada kasus yang sangat berat, gejala yang sangat mencolok adalah hematemesis dan melena yang dapat berlangsung sangat hebat sampai terjadi rejatan karena kehilangan darah. Pada sebagian kasus gejalanya amat ringan bahkan asimtomatis. Keluhan-keluhan itu misalnya timbul nyeri pada ulu hati, biasanya ringan dan tidak dapat ditunjuk dengan tepat lokasinya. Kadang-kadang disertai mual muntah, perdarahan saluran cerna sering merupakan satu-satunya gejala. Pada kasus yang amat ringan perdarahan bermanivestasi sebagai darah samar pada tinja dan secara fisis akan dijumpai tanda-tanda anemia defisiensi dengan etiologi yang tidak jelas.
Pada pemeriksaan fisis biasanya tidak ditemukan kelainan, kecuali mereka yang mengalami perdarahan yang hebat sehingga menimbulkan tanda
1. Muntah darah
2. Nyeri epigastrium
3. Nausea dan rasa ingin vomitus
4. Nyeri tekan yang ringan pada epigastrium

1.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Endoskopi
2. Histopatologi biopsi mukosa lambung
3. Radiologi dengan kontras ganda

1.6 PENGOBATAN
Pengobatan sebiknya meliputi pencegahan terhadap setiap dengan risiko tinggi. Pengobatan terhadap penyakit yang mendasari, dan menghentikan obat yang dapat menjadi kausa dan pengobatan suportif.
Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan antasida atau antagonis H2 sehingga dicapai pH lambung 4 atau lebih, walaupun hasilnya masih menjadi perdebatan, tetapi pada umumnya tetap dianjurkan. Pencegahan ini terutama bagi pasien yang mendarita penyakit dengan keadaan klinis yang berat. Untuk pengguna aspirin atau antiinflamsi nonsteroid, pencegahan yang terbaik ialah dengan misoprostol, suatu derivat prostaglandin mukosa.
Dahulu sering dilakukan kuras lambung dengan air es untuk menghentikan perdarahan saluran cerna bagian atas. Tidak ada bukti klinis yang menunjukkna manfaat tindakan tersebut untuk menunjukkan manfaat tindakan tersebut untuk menghentikan perdarahan saluran cerna bagian atas. Pemberian anti antasida, antagonis H2 dan sukralfat tetap dianjurkan walupun efek terapeutinya masih diragukan biasanya perdarahan akan segera berhenti bila keadaan pasien membaik dan lesi mukosa akan segera normal kembali.
Pada sebagian kecil pasien perlu dilakukan tindakan yang bersifat invasif mengancam jiwa. Tindakan-tindakan itu misalnya dengan endoskopi skleroterapi, embolisasi arteri gastrika kiri, atau gastrektomi. Gastrektomi sebaiknya dilakukan hanya atas dasar indikasi absolut.
1.7 Asuhan keperawatan gastritis
1.Pengkajian
Hal-hal yang perlu dikaji dalam penanganan asuhan keperawatan penderita ganguan sistem gastrointerstinal ”gastritis” anatara lain adalah :
1. Identitas pasien
2. Riwayat kesehatan pasien
a. Riwayat Kesehatan Dahulu
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
3. Pola aktifitas sehari-hari (ADLs)
a. Pola Nutrisi
b. Pola Eliminasi
c. Pola Istirahat Tidur
d. Pola Aktifitas
e. Aspek Boi-Psiko-Sosial dan Spiritual
4. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan Umum
b. Kesadaran (TTV)
5. Faktor Psikologis
a. Toleransi/Kemampuan memahami tindakan
b. Koping
6. Pengetahuan Keluarga
a. Tingkat pengetahuan keluarga tentang gastritis
b. Penanganan keluarga dalam menangani gastritis
c. Kesiapan / kemampuan untuk belajar merawat


B.Diagnosa
1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia, rangsangan muntah, penyalahgunaan laksatif, dan penyimpangan persepsi tentang tubuh.
2. Potensial terhadap kekurangan volume cairan (sekunder) berhubungan dengan diet.
3. Gangguan gambaran tubuh berhubungan dengan parsepsi yang tidak akurat tentang diri
4. Ketidak efektifan koping individu yang berhubungan dengan perasaan hilang kontrol, rasa takut dengan bertambah besar dan respon pribadi terhadap disfungsi keluarga.
5. Ketidak efektifan koping keluarga berhubungan dengan ketidak mampuan untuk mengkomunikasikan dan untuk memenuhi kebutuhan semua anggota keluarga.
6. Kurang pengetahuan dan informasi berhubungan dengan kondisi dan kurangnya ketrampilan koping.
7. Nyeri berhubungan dengan iritasi dan distupsi mukosa lambung


C.Perencanaan
1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, rangsangan muntah sendiri, penyalahgunaan laksatif, dan penyimpangan persepsi tentang penyimpangan tentang tubuh
Intervensi keperawatan:
Tujuan:
1. Mampu mengungkapkan pemahaman tentang kebutuhan nutrisi
2. Mampu mencerna kalori adekuat untuk mempertahankan berat badan normal
INTERVENSI
a. Izinkan pasien memeilih makanan (makanan rendah kalori tidak diperbolehkan)
b. Buat struktur waktu makan dengan batasan waktu (misalnya 40 menit)
c. Ditraksi (misalnya pembicaraan, menonton tv) selama waktu makan
d. Sebutkan waktu makan, menghidangkan makanan, dan batas waktu makan, informasi pada klien bahwa bila makanan tidak dimakan selama waktu yang telah disediakan, akan dibuat penggantian metode pemberian makanan lain
e. Bila makanan tidak dimakan, lakukan pemberian makan melalui selang, NPT sesuai pesanan, dalam keadaan seperti ini jangan berikan penawaran pada pasien
f. Lakukan metode pemberian makan pengganti setiap kali menolak untuk makan per oral
g. Jauhkan perhatian selama waktu makan bila klien menolak untuk makan Jangan biarkan pasien mengemut makan
h. Kurangi perhatian saat makan
2. Potensial terhadap kekurangan volume cairan(sekunder) berhubungan dengan diet
Tujuan : 1. Hidrasi dapat dipertahankan secara adekuat
2. Keseimbangan antara masukan dan haluaran
Intervensi :
1. Pantau masukan dan haluaran
2. Pantau pemberian cairan dengan elektrolit sesuai pesanan, temani ketika pasien mandi untuk mencegah pengosongan intravena
3. Pantau tanda-tanda vital sesuai kebutuhan
3. Gangguan gambaran tubuh berhubungan dengan persepsi yang tidak akurat tentang diri
Tujuan : Mampu mengungkapkan pikiran positif tentang diri sendiri
Intervensi :
1. Berikan dukungan positif dan penghargaan pada sesuatu yang dilakukan dengan baik oleh klien
2. Kembangkan pengalaman yang berhasil
3. Mulailah melakukan dengan tugas-tugas yang mudah
4. Fokuskan pada hal-hal yang positif
5. Berikan dorongan klien untuk mengungkapkan keinginannya
6. Anjurkan higine yang baik berpakain untuk menguiraikan gambaran diri dan membicarakan perasaan tentang diri
7. Berikan respon secara faktual dan konsisiten terhadap pertanyaan klien mengenai diet dan nutrisi
8. Berikan dorongan dan penekanan pada aktifitas fisik yang konstruktif, seperti merapikan tempat tidur, membantu klien lain
4. Ketidakefektifan koping individu berhubungan dengan perasaan hilang kontrol, rasa takut dengan bertambah besar dan respon pribadi disfungsi keluarga
Tujuan :
1. Mulai menunjukkan ketrampilan koping positif
2. Mampu mempertahankan berat badan selama periode stress
Intervensi :
1. Berikan dorongan untuk mengungkapkan perasaan
2. Observasi dan catat respon terhadap strees
3. Anjurkan untuk datang bila strees
4. Hindarilah menarik perhatian anda dari ritual emosional klien yang berhubungan dengan makan, dan sebagainya
5. Dukung upaya klien pada penentuan diri, khususnya bila dengan keluarga
6. Tingkatkan teknik redusi strees
7. Berikan dorongan pada orang pada orang terdekat
5. Ketidakefektifan koping keluarga berhubungan dengan ketidak mampuan untuk mengkomunikasikan dan untuk memenuhi kebutuhan samua anggota keluarga
Tuajuan :
1. Mulai mengenal kebutuhan orang lain
2. Mampu mengidentifikasiakn area di mana kebutuhan serta harapan tidak terpenuhi
3. Mampu meberikan respon yang terhadap dukungan yang diberikan
4. Mencari bantun bila diperlukan
6. Kurangnya pengetahuan dan informasi berhubungan dengan kondisi dan kurangnya ketrampilan koping
Tuajuan :
1. Mengungkapkan pentingnya perubahan gaya hidup untuk mempertahankan berat badan yang normal
2. Mencari sumber konseling untuk mangadakan perubahan
3. Berusaha mempertahankan berat badan
7. Nyeri berhubungan dengan iritasi, dan distrupsi mukosa lambung
Tujuan : Klien melaporkan terjadinya penurunan atau hilangnya rasa nyeri
Intervensi :
1. Kaji tingkat nyeri, letak, tipe, frekuensi, dan durasi, karena nyeri hebat mendadak dapat menandakan perforasi lambung
2. Pantau efek samping analgesik
3. Berikan akatifitas menghibur
4. Lakukan pijat punggung, ubah posisi
5. Diskusikan dan ajarkan teknik relaksi
8. Kurangnya pengetahuan dan informasi berhubungan dengan kondisi dan kurangnya ketrampilan koping
Tujuan :
1. Mengatakan pengertiannya tentang pengertianya tentang kebutuhan diet, aturan pengobatan
- Makan dalam jumlah kecil namun sering pada interval yang teratur
- Mengunyah makanan dengan baik, makan dengan perlahan
- Hindarkan kafein, alkohol, tembakau, dan aspirin
2. Berikan penekanan tentang penjelasan dokter mengenai faktor penyebab yang berhubungan dengan penyakit
3. Berikan penekanan pada teknik penatalaksanaan strees
4. Berikan instruksi obat-oabat, nama, dosis, tujuan, waktu pemberian, efek samping, instruksikan klien untuk hanya meminum antasida yang direspkan oleh dokter
5. Jelaskan tanda dan gejala perdarahan lanjut, hematemesisi, distensi abdomen, feses berwarna keperakan, pingsan, dispnea
6. Diskusikan pentingnya keseimbangan latihan dan waktu istirhat
7. Berikan daorongan untuk melakukan kunjungan tindak lanjut dengan dokter

Tidak ada komentar:

Posting Komentar