NAMA : EKA LISTIANI
NIM : 04.08.2094
KELAS : E/KP/VI
GLAUKOMA
I. PENGERTIAN
Glaukoma adalah sejumlah kelainan mata yang mempunyai gejala peningkatan tekanan intra okuler (TIO), dimana dapat mengakibatkan penggaungan atau pencekungan papil syaraf optik sehingga terjadi atropi syaraf optik, penyempitan lapangan pandang dan penurunan tajam pengelihatan (Martinelli, 1991).
TIO normal 15-21 mmHg.
Tekanan > 21 mmHg sudah harus diikuti teliti
TIO dipertahankan karena adanya dinamika akuos humor dalam mata. Gangguan dari dinamika ini akan mengakibatkan TIO naik/tinggi, terjadi glaukoma
Aquos humor secara kontinue diproduksi oleh badan silier (sel epitel prosesus ciliary bilik mata belakang untuk memberikan nutrien pada lensa. Aquos humor mengalir melalui jaring-jaring trabekuler, pupil, bilik mata depan, trabekuler mesh work dan kanal schlem. Tekanan intra okuler (TIO) dipertahankan dalam batas 10-21 mmhg tergantung keseimbangan antara produksi dan pegeluaran (aliran) Aquos humor di bilik mata depan.
Peningkatan TIO akan menekan aliran darah ke syaraf optik dan retina sehingga dapat merusak serabut syaraf optik menjadi iskemik dan mati. Selanjutnya menyebabkan kerusakan jaringan yang dimulai dari perifir menuju ke fovea sentralis. Hal ini menyebabkan penurunan lapang pandang yang dimulai dari daerah nasal atas dan sisa terakhir pada temporal.
Produksi aquos homur Corpus Ciliaris
Bilik Mata Belakang
Pupil
Bilik Mata Depan
Sudut Bilik mata depan
Trab. Schlem
Sistem Vena Sklera
Dinamika akuos humor
Pembentukan akuos humor pada taju siliar dari badan siliar, lalu mengalir ke bilik mata belakang, melalui pupil ke bilik mata depan, kemudian ke sudut bilik mata depan masuk ke sistim pembuangan yaitu trabekular meshwork, kanal schlemm, saluran intra sklera kemudian dibuang ke vena-vena episklera dan konjungtiva.
Pembentukan : badan siliar (taju siliar)
Bilik mata belakang (BMB)
Pupil
Pengaliran
Bilik mata depan (BMD)
Sudut bilik mata depan
Trabekular meshwork
Kanal Schlemm
Pembuangan
Saluran-saluran intra sklera
Sistim vena episklera & konjungtiva.
Gangguan dinamika akuos humor :
1. Pembentukan yang berlebihan : sangat jarang terjadi.
2. Hambatan pengaliran :
Blok pada pupil
Suduk bilik mata depan tertutup
Keadaan ini biasanya mendadak (akut) tekanan intra okular naik sangat tinggi, timbul glaukoma akut.
3. Hambatan pada pembuangan :
Pada trabekular meshwork
Kanal schlemm
Saluran intra sklera
Sedangkan sudut bilik mata depan tetap terbuka
Hambatan pembuangan mengakibatkan naiknya tekanan intra okular secara perlahan sehingga timbul glaukoma kronis.
Glaukoma dapat merupakan faktor primer/sekunder pada kelainan mata yang lainnya. Glaukoma primer mempunyai predisposisi genetik. Glaukoma primer (dalam bentuk lebih umum), lebih banyak pada orang kulit hitam dibanding orang kulit putih pada orang dengan usia 45 – 64 tahun. Insiden pada orang kulit hitam 15 kali orang kulit putih. Karena pada beberapa bentuk glaukoma dapat tidak nampak gejala awal, beberapa orang tidak menyadari bahwa dirinya mempunyai glaukoma hingga terjadi kehilangan penglihatan. Diagnosa & tindakan secara dini sangat penting untuk mencegah hilangnya penglihatan.
II. PATOFISIOLOGI
Glaukoma
Hambatan Aliran Aquos Humor
Tekanan Intra Okular Meningkat
Serat Syaraf OptikTerdesak Rusaknya sel jaringan
Gangguan lapangan pandang Nyeri
Gangguan Persepsi Sensori Resiko Cedera Cemas
Visual
Interpretasi Salah
Kurangnya Pengetahuan
III. TIPE GLAUKOMA
A. GLAUKOMA PRIMER
• Paling sering
• Penyebab tidak diketahui
• Didapatkan pada orang yang memiliki bakat glaukoma (struktur) yang berhubungan dengan sirkulasi / reabsorbsi / outflow aquos humor mengalami perubahan patologis / degeneratif.
• Gangguan pengeluaran aquos humor (Bilik mata depan sempit).
• Kelainan pertumbuhan sudut Bilik mata depan (ganiosdisgenesis = Trabekulogenesis, iridogenesis, korniodigenesis)
Glaukoma primer dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu: :
1. Glaukoma Sudut Terbuka / Simplek (Kronis)
• Paling sering (90%)
• Bilateral, salah satu lebih berat
• Tidak ada gejala pada tahap awal
• Sudut Bilik mata depan terbuka normal
• Ada hambatan aliran aquos humor tidak secepat produksi. Jika jangka lama / bila berlangsung secara terus menerus, maka menyebabkan :
• Degenerasi Syaraf Optik
• Degenerasi Sel Ganglion
• Degeneras Atropi Iris dan Siliare.
• Pembuluh darah papil bergeser ke nasal dan daerah papil yang terkena atropi (warna putih abu-abu bukan merah jambu).
• Diturunkan secara genetik
• Resiko pada : Individu umur > 40 tahun
• Klien mengeluh stadium lanjut / Gejala yang timbul adalah :
• Mata terasa berat, pusing
• Penglihatan kabur
• Halo disekitar cahaya.
• Tanda-tanda lain :
• Kelainan lapang pandang dan papil syaraf
• Membesarnya titik buta
• Bentuk busur yang berhubungan dengan bintik buta.
• Pemeriksaan diagnostik :
• Tonometri
• Pemeriksaan okuler (ganioskopi).
2. Glaukoma sudut tertutup/sudut sempit (akut)
Glaukoma akut / Glaukoma sudut sempit
• Sedikit terjadi
• Onset terjadi tiba-tiba (gawat darurat)
• Mekanisme dasar
Terjadi penyempitan sudut dan perubahan bentuk iris ke anterior Terjadi penekan kornea dan menutup / menekan sudut mata aquor humor tidak bisa mengalir keluar, Bilik mata depan menjadi dangkal. Bersifat acut / sub acut / kronis.
Gejala Glaukoma sudut tertutup kronis yang timbul adalah :
• Nyeri selama beberapa jam dan hilang kalau tidur sebentar. Oleh karena peningkatan TIO (> 75 mmHg), Halo disekitar cahaya. Headache, mual, muntah, bradikardi (reflek okulokardiak). Penglihatan kabur dan berkabut serta odema pada kornea.
• Penurunan lapang pandang
• Mata : tanda kongesti / peradangan
Kelopak mata bengkak, mata merah.
TIO sangat tinggi : pupil dilatasi, kornea suram, dan oedema, papil optik hiperemis, oedema, mata keras.
Lensa keruh
Tajam penglihatan turun
Klien terlihat sakit berat.
• Resiko pada klien
a. Klien hipermetropia
b. Lansia : lensa membesar.
• Pemeriksaan diagnostik
a. Tonometri
b. Pemeriksaan okular
c. Ganioskopi (Bilik mata depan )
d. Uji profokasi:
• Uji kamar gelap
Klien duduk 1 jam, Tidak tidur jika tekanan intra okular meningkat 8 mmHg : hambatan aliran jika pupil dilatasi.
• Uji posisi tengkurap
Jika tekanan intra okular meningkat 8-10 mmHg GS tertutup, pastikan dengan ganioskopi.
IV. PENATALAKSANAAN
1. Glaukoma sudut terbuka / simplek
a. Obat-Obat Miotik
Golongan Kolinergik (Pilokarpin 1 - 4 % 5 Kali Sehari) Karbakol 0,75 – 3 %
Golongan Antikolineoterase (Demekarium Bromid, Humorsol 0,25 %) Pilokarpin 0,25.
b. Obat-Obta Penghambat Sekresi Aquos Humor (Adrenergik)
Timolol (tetes 0,25 dan 0,5 % 2 x sehari)
Epineprin 0,5 – 2 % 1-2 x sehari
c. Carbonican Hidrase Inhibitor
Asetazolamid (Diamok 125-250 Mg 4 X Sehari).
Diklorfenamid (Metazolamid)
d. Laser Trabeculoplasty dimana su/ laser zat Argon disorotkan langsung ke jaringan trabekular untuk merubah susunan jaringan & membuka aliran dari humor aqueous.dan iridektomi
e. Tindakan bedah trabeculectomy yaitu membuat pembukaan antara ruang anterior dan rongga sub konjungtiva.
2. Glaukoma sudut tertutup / akut
a. Bahan hiperosmotik
Gliserin (Gliserol) per oral 1cc / kg BB. Dalam larutan 50 % air jeruk
Manitol 20 % IV. 1-2 gram / Kg BB diberikan 60 tetes / menit.
b. Miotikum Pilokarpin 2-4 % 1 tts 3 x 5 menit kemudian 1 tts. 30 menit /2 jam. Selanjutnya 1 tts / jam sampai operasi.
c. Karbonikan Hidrase Inhibitor
Asetasolamit langsung 500 mg / oral (2 tablet) lalu tiap 4 jam 250 mg.
d. Operasi filtrasi/penyaringan yaitu membuat hubungan antara bilik mata depan dengan saluran intrasklera atau sestem vena episklera dan konjungtiva untuk menekan peningkatan tekanan intra okular .
V. PENGKAJIAN
1. Riwayat atau adanya faktor risiko :
- Data demografi : Umur penderita >40 tahun
- Riwayat keluarga positif
- Riwayat penyakit mata : tumor mata, hemoragi intraokuler, uveitis
- Riwayat operasi mata
- Penggunaan obat-obatan : antihistamin, kortikosteroid
Riwayat gangguan penglihatan : lama , kapan terakhir periksa mata dan tonometri.
2. Pemeriksaan fisik
Penglihatan :
- Melaporkan kehilangan pengelihatan perifer lambat
- Keluhan-keluhan pengelihatan kabur dan penurunan persepsi sinar.
- Ketajaman penglihatan; snelen chart bila tersedia, membaca jarak jauh, membaca jarak dekat.
- Lapangan pandang; test konfrontasi
- Adanya bayangan sekitar cahaya (halo).
Ketidaknyamanan :
- Nyeri pada mata; tumpul, berat
- Sering disertai sakit kepala; derajat beratnya
- Mual dan muntah
3. Pemeriksaan Diagnostik pada glaukoma
1. Pemeriksaan tekanan intra okular
Ada 2 cara periksa tekanan intra okular
1) Digital (dengan jari tangan )
2) Alat (tonometer).
DIGITAL
1) Kedua ujung jari telunjuk diletakan pada kelopak mata bagian atas
2) Klien melirik kebawah (jangan menutup mata, karena bola mata akan naik keatas)
3) Tekan bergantian dengan kedua jari tersebut (seperti memeriksa abses).
Hasil : TIO normal Tn
TIO tinggi : Tn+1, Tn+2, TN+3 dst.
TIO rendah : Tn-1, Tn-2, Tn-3 dst.
TONOMETER :
Tonometri digunakan untuk pemeriksaan tekanan intra okular.
Tonometer aplanasi Goldmann dengan alat ini didapatkan hasil yang lebih cermat, tetapi alat ini lebih mahal. Dengan menggunakan slit lamp (celah lampu biomikroskop), sebagian kecil daerah kornea diratakan untuk mengimbangi beban alat ukur yang mengukur tekanan.
Metode langsung yang kurang akurat tetapi alat ini paling sering dipakai alat ini lebih murah, mudah dibawa dan mudah penggunaanyaadalah Tonometer Schiotz. Mata dianesthesi & tonometer ditempelkan langsung di atas kornea. Keterangan hasil bisa dilihat pada skala.
Tonometer komputer (nonkontak) mengukur tekanan intra okular dengan melihat perubahan refleks cahaya dari kornea dari puff udara. Bila menunjukkan lebih dari 24 mmHg bisa dikatakan glaukoma
2. Lensa kontak & lensa khusus (Gonioskopi) digunakan untuk melihat secara langsung sudut ruang anterior. Teknik ini untuk membedakan antara glaukoma sudut tertututp dengan glaukoma sudut terbuka.
3. Periksa papil syaraf optik
Alat Oftalmoskopi digunakan untuk melihat secara langsung diskus optik dan struktur mata internal
Dilihat papil syaraf optik apakah ada cekungan akibat tekanan yang tinggi (“excavatio” = “cupping”).
Luas cekungan dibanding dengan keseluruhan disk=cup / disc ratio (c/d ratio).
Normal : c/d ratio 0- 0,3
> 0,3 curiga adanya kelainan (kemungkinan juga kongenital).
4. Periksa lapang pandangan
Diperiksa lapang pandangan sebtral dengan alat : TANGEN SCREEN, seluas 30° dari pusat tajam penglihatan.
Untuk mengetahui berkurangnya penglihatan perifer akibat kerusakan glaukoma.
Untuk follow up glaukoma.
5. Periksa bilik sudut mata depan
Sederhana dengan lampu senter, sinari iris dari samping, bila tidak ada bayangan, sudutnya dalam, sedangkan bila ada bayangan iris berarti sudut sempit.
6. Periksa Tajam penglihatan (Visus).
Periksa ini rutin untuk semua klien mata
Pada glaukoma : Visus 1/60 – 1/300; prognosis tidak baik.
Visus 6/6 harus hati-hati, karena kemungkinan lapang pandanganya sempit.
Visus tidak dapat dipakai sebagai : Ada tidaknya glaukoma.
VI. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUGKIN TIMBUL
1. Penurunan persepsi sensori visual/ penglihatan berhubungan dengan kerusakan serabut syaraf oleh karena peningkatan tekanan intra okular.
2. Cemas berhubungan dengan penurunan pengelihatan, kurangnya pengetahuan.
Kecemas berhubungan dengan kurangnya persiapan dan prosedur operasi.
Ansietas berhubungan dengan kehilangan penglihatan aktual atau potensial dan dampak penyakit kronis pada gaya hidup.
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan ketidakmampuan mengingat dan salah interpretasi informasi.
Kurang pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi.
4. Resiko injury berhubungan dengan menurunnya penglihatan perifer.
5. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan dampak peningkatan tekanan intra okular
Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan luka insisi pada mata.
Nyeri berhubungan dengan dampak peningkatan tekanan intra okular
6. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan luka insisi pada daerah operasi.
7. Ketidakmampuan dalam perawatan diri berhubungan dengan penurunan pengelihatan
8. Resiko tinggi terhadap inefektif penatalaksanaan regimen terapeutik berhubungan dengan ketidak cukupan pengetahuan tentang proses penyakit, status klinis kekambuhan, dan rencana pengobatan.
VII. RENCANA KEPERAWATAN
Penurunan persepsi sensori visual/ penglihatan berhubungan dengan kerusakan serabut syaraf oleh karena peningkatan tekanan intra okular.
Ditandai :
Data subyektif:
- Menyatakan pengelihatan kabur
- Menyatakan adanaya sambaran seperti kilat (halo).
Data obyektif:
- Visus menurun
- TIO meningkat.
Tujuan : Klien dapat mempertahankan penglihatan yang masih ada.
Kriteria hasil :
- Klien dapat meneteskan obat dengan benar dan aseptik.
- Klien dapat mematuhi aturan terapi yang ditentukan /Kooperatif dalam tindakan
- Klien menyadari hilangnya pengelihatan pada glaukoma secara permanen
- Tidak terjadi penurunan visus lebih lanjut.
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji dan catat ketajaman pengelihatan
2. Kaji deskripsi fungsional apa yang dapat dilihat/tidak.
3. Sesuaikan lingkungan dengan kemampuan pengelihatan:
- Orientasikan thd lingkungan.
- Letakan alat-alat yang sering dipakai dalam jangkuan pengelihatan klien.
- Berikan pencahayaan yang cukup.
- Letakan alat-alat ditempat yang tetap.
- Berikan bahan-bahan bacaan dengan tulisan yang besar.
- Hindari pencahayaan yang menyilaukan.
- Gunakan jam yang ada bunyinya.
4. Kaji jumlah dan tipe rangsangan yang dapat diterima klien.
5. Anjurkan Klien untuk mengistirahatkan mata yang sakit. Beritahu jangan membaca, menonton TV.yang terlalu lama, dan mengedan yang terlalu kuat.
6. Jelaskan pada klien tentang penyakit dan komplikasi yang dideritanya serta anjurkan pada klien untuk mematuhi rencana pengobatan.
7. Jelaskan pada klien bahwa pengobatan harus terus menerus digunakan.
8. Anjurkan klien untuk kontrol secara teratur dan beri motivasi untuk mentaati rencana pengobatan. 1. Menetukan kemampuan visual
2. Memberikan keakuratan thd pengelihatan dan perawatan.
3. Meningkatkan self care dan mengurangi ketergantungan.
4. Meningkatkan rangsangan pada waktu kemampuan pengelihatan menurun.
5. Mengistirahatkan mata, dan mengatur beban mata dapat menurunkan tekanan intra okular.
6. Pemahaman yang adekuat, akan meningkatkan kepatuhan klien terhadap program pengobatan.
7. Pengobatan secara teratur untuk mencegah penurunan penglihatan lebih lanjut.
8. Deteksi dini terhadap tingkat penyembuhan atau keparahan.
Cemas berhubungan dengan penurunan pengelihatan, kurangnya pengetahuan.
Ditandai :
Data subyektif :
- Menyatakan perasaan takut
- Sering menanyakan tentang penyakitnya
- Mengakui kurangnya pemahaman
Data obyektif :
- Suara gemetar
- Tampak gugup
- Nadi meningkat
- Berkeringat dingin
Tujuan : Kecemasan hilang/menurun dan klien dapat beradaptasi dengan kondisinya.
Kriteria hasil :
- Klien akan menyebutkan bebas dari rasa takutnya.
- Berkurangnya perasaan gugup.
- Mengungkapkan pemahaman tentang rencana tindakan.
- Wajah dan posisi tubuh rileks.
INTERVENSI RASIONAL
1. Gali persepsi klien tentang kondisi dan efeknya pada gaya hidup dan konsep diri klien.
2. Turunkan tingkat kecemasan.
3. Berikan informasi akurat dan perbaiki sikap mispersepsi.
4. Hati-hati menyampaikan hilangnya pengelihatan secara permanen
5. Berikan kesemapatan klien mengekspresikan tentang kondisinya.
6. Pertahankan kondisi yang rileks.
7. Jelaskan tujuan setiap tindakan.
8. Pertahankan kontrol nyeri yang efektif
9. Bantu klien untuk mengidentifikasi dan menggunakan mekanisme koping masa lalu yang berhasil dan sistem pendukung.
10. Diskusikan strategi untuk sosialisasi dan pengembangan peran:
a. Lanjutkan ketelibatan pada aktifitas yang menyenangkan sebelumnya.
b. Penyelidikan yang memungkinkan peran dan aktifitas baru 1. Setiap orang menunjukan ansietas / rasa takut dengan cara yang unik.
2. Tingkat kecemasan merupakan stresor peningkatan katekolamin tekanan intra okular.
3. Mispersepsi dapat meningkatkan kecemasan.
4. Kalau klien belum siap, akan menambah kecemasan.
5. Pengekspresikan perasaan membantu klien mengidentifikasi sumber cemas.
6. Rileks dapat menurunkan cemas.
7. Dengan penjelasan akan memberikan informasi yang jelas.
8. Nyeri adalah sumber stress.
9. Koping masa lalu yang berhasil merupakan dapat membantu menyelesaikan masalah.
10. Peningkatan sosialisasi dapat meningkatkan harga diri..
Kecemas berhubungan dengan kurangnya persiapan dan prosedur operasi.
Tujuan : klien tidak cemas dalam waktu 2 X 24 jam.
Kriteria hasil :
- Klien mengerti tujuan dan persiapan serta prosedur operasi
- Klien mengungkapkan tidak merasa khawatir terhadap rencana tindakan operasinya.
- Klien kooperatif dan tidak ada tanda-tanda kecemasan.
INTERVENSI RASIONAL
1. Berikan penjelasan tentang tujuan, persiapan dan prosedur operasi.
2. Perhatikan keluhan-keluhan yang tidak bisa diatasi sendiri oleh klien.
3. Ciptakan hubungan yang baik antara keluarga, klien dan tim kesehatan..
4. Motivasi klien untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan. 1.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan ketidakmampuan mengingat dan salah interpretasi informasi.
Kriteria yang diharapkan
- Klien dapat menjelaskan glaukoma kronis dan pentingnya pengobatan yang berlanjut.
- Klien menyebutkan gejala-gejala yang perlu dilaporkan ke dokter.
- Klien dapat mendemonstrasikan cara menggunakan obat tetes mata yang benar.
INTERVENSI RASIONAL
1. Minta klien untuk menerangkan pengertian glaukoma;
Apa itu glaukoma.
Akibat bila tidak diobati
Gejala-gejala yang timbul.
Perlunya penanganan medis.
2. Terangkanpada klien tentang glaukoma dan pentingnya untuk pengobatan seumur hidup.
3. Minta klien untuk memperagakan cara memasukkan obat mata, betulkan tekniknya bila perlu. 1. Untuk mengetahui tingkat pengetahuannya.
2. Memberikan penjelasan sesuai dengan tingkat pengetahuannya, karena glaukoma merupakan suatu keadaan kronis, klien perlu tahu akibatnya bila tidak segera diobati (mata buta & sakit) dan bagaimana mencegahnya..
3. Bila penglihatannya berkurang, ia bisa mempunyai kesulitan untuk memasukkan obat mata.
Kurang pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 1 – 2 jam klien pahan dengan penyakitnya.
Kriteria hasil :
- Klien secara verbal mengatakan paham tentang pentingnya.
- Klien tampak tenang.
INTERVENSI RASIONAL
1. Jelaskan kepada klien tentang penyakitnya.
2. Diskusikan tentang pentingnya pengobatan.
3. Anjurkan klien untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat menaikkan tekanan intra okular seperti menundukkan kepala, melihat cahaya yang menyilaukan.
4. Jelaskan pada klien untuk melaporkan kepada perawat/dokter bila nyeri mata hebat, fotopobia (silau), peningkatan lakrimasi, dan perubahan penglihatan.
Resiko cedera berhubungan dengan penurunan lapangan pandang
Tujuan : Klien tidak mengalami cedera
Kriteria hasil :
- Klien dapat menjelaskan cara mencegah injury.
- Klien mampu mendemontrasikan tentang kewaspadaan kecemasan.
- Klien meminta bantuan petugas saat memenuhi kebutuhan.
INTERVENSI RASIONAL
1. Orietasikan klien terhadap lingkungan ketika tiba.
2. Jelaskan asal mula penurunan penglihatan perifer dan hubungannya suka menabrak benda.
3. Anjurkan untuk menengokkan kepala untuk melihat ke setiap sisi.
4. Atur ruangan agar leluasa untuk berjalan-jalan.
5. Lakukan modifikasi lingkungan untuk memindahkan semua bahaya:
a. Singkirkan rintangan pada tempar lalu lalang.
b. Sungkirkan gulungan dari kaki
c. Singkirkan barang-barang yang mungkin dapat mencederai klien.
6. Bantu klien dan keluarga mengevaluasi lingkungan rumah terhadap bahaya yang mungkin terjadi. 1. Mengurangi kecelakaan atau cidera.
2. Pengetahuan yang rasional dapat meningkatkan kemungkinan bertindak untuk mencegah injury.
3. Menambah lapangan pandang.
4. Mengurangi hambatan akan menurunkan kemungkinan injury.
5. Menimalkan tingkat cidera yang berasal dari gangguan ini.
6. Mempertahankan yang aman setelah pulang.
Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan dampak peningkatan tekanan intra okular.
Tujuan : Rasa nyaman dapat terpenuhi dalam waktu 2 X 24 jam.
Kriteria Hasil :
- Klien tidak mengeluh nyeri.
- Tekanan intra okular normal/turun.
- Ekspresi wajah tenang
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji tipe, intensitas, dan lokasi nyeri. Gunakan tingkat skala nyeri untuk menentukan dosis analgetik
2. Pertahankan istirahat di tempat tidur dalam ruangan yang tenang dan gelap dengan kepala ditinggikan 30° atau dalam posisi nyaman.
3. Istirahatkan klien dalam ruangan yang tidak menyilaukan mata dengan posisi kepala agak ekstensi atau posisi yang nyaman bagi klien.
4. Anjurkan tehnik relaksasi.
5. Hindari mual muntah, berikan anti emetik bila perlu.
6. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetik. 1. Mengenal berat ringannya nyeri dan menentukan terapi.
2. Mengurangi rangsangan terhadap syaraf sensori dan mengurangi tekanan intra okular.
3. Posisi yang nyaman, mengurangi ketegangan otot dan menurunkan nyeri.
4. Keadaan rileks dapat mengurangi nyeri.
5. Mual dan muntah adalah indikator adanya peningkatan tekanan intra okular.
Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan luka insisi pada mata.
Tujuan : Klien merasa nyaman dan nyeri berkurang dalam waktu 3 X 24 jam
Kriteria hasil :
- Klien mengungkapkan nyeri berkurang.
- Ekspresi wajah tampak rileks.
INTERVENSI RASIONAL
1. Berikan penjelasan pada klien tentang sebab-sebab nyeri, akibat dan cara mengatasinya.
2. Tentukan faktor penyebab turunnya ambang nyeri.
3. Alihkan perhatian klien dari rasa nyeri.
4. Observasi luka operasi.
5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetik.
Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan luka insisi pada daerah operasi.
Tujuan : Tidak terjadi infeksi dalam waktu 3 X 24 jam
Kriteria hasil :
- Tanda-tanda infeksi tidak ada.
- Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda infeksi secara dini.
INTERVENSI RASIONAL
1. Beri penjelasan tentang tanda-tanda infeksi.
2. Rawat luka tiap hari dengan tektik aseptik & antiseptik.
3. Cegah tekanan pada garis jahitan.
4. Observasi gejala-gejala infeksi
5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, L.J. (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2. EGC. Jakarta.
(2000). Diagnosa Keperawatan dan Masalah Kolaboratif. Ed. 8. EGC. Jakarta.
Darling, V.H. & Thorpe, M.R. (1996). Perawatan Mata. Yayasan Essentia Media. Yogyakarta.
Doengoes, Marylin E.. (1989). Nursing Care Plans. F.A Davis Company. USA Philadelphia.
Ilyas, Sidarta. (2000). Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. FKUI Jakarta.
Junadi, Purnawan. (1982). Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
Mansjoer, A. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1. Media Aesculapius FKUI Jakarta.
Price, Sylvia Anderson. (1985). Pathofisiologi Konsep klinik Proses-Proses Penyakit. EGC. Jakarta.
Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta:
Wijana, Nana. (1983). Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : FKUI Jakarta.
TINJAUAN KASUS
I. PENGKAJIAN
Waktu : 6 Mei 2002
Tempat : Ruang Mata Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya .
1. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. Hadi Usmantono.
Umur : 60 Tahun.
Jenis Kelamin : Laki-laki.
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia.
Agama : Islam.
Pekerjaan : Swasta (Purnawirawan TNI AL)
Pendidikan : S 1
Alamat : Jl. Donorejo Selatan III c / 3.
Tanggal MRS : 6 Mei 2002.
Cara Masuk : Lewat Poliklinik RSUD Dr. Soetomo Surabaya
Diagnosa Medis : Absolute Glaukoma Okuli Sinistra
Alasan Dirawat : Akan dioperasi.
Keluhan Utama : Nyeri hebat pada mata kiri
2. RIWAYAT KEPERAWATAN (NURSING HISTORY)
1) Riwayat Penyakit Sekarang
Nyeri hebat pada mata kiri sejak 1 bulan yang lalu secara berangsur-angsur kemudian berobat ke dokter, dilakukan pemeriksaan ternyata ditemukan Absolute Glaukoma Okuli Sinistra kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah dr Soetomo Surabaya untuk menunggu rencana operasi tanggal 7 Mei 2002.
2) Riwayat Penyakit Dahulu
Klien sebelumnya pernah mengalami kelainan seperti yang dideritanya sekarang ini yaitu pada tahun 1989 dan juga dilakukan operasi okuli sinistra. Klien Alergi Penicillin. Hipertensi (+).
3) Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien mengatakan bahwa tidak ada keluarganya yang mengalami penyakit seperti yang dideritanya sekarang ini
4) Keadaan Kesehatan Lingkungan
Klien mengatakan bahwa Lingkungan rumah tempat tinggal cukup bersih
5) Riwayat Kesehatan Lainnya
Alat bantu yang dipakai Kaca mata
3. OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK
1) Keadaan Umum baik
2) Tanda-tanda vital
Suhu : 36 0C
Nadi : 92 X/menit. Kuat dan teratur
Tekanan darah : 170/130 mmHg.
Respirasi : 24 x/menit.
3) Body Systems
(1) Pernafasan (B 1 : Breathing)
Bentuk dada simetris, Sekresi dan batuk (+), Pola nafas ; Frekuensi 24 x/menit, Irama teratur. Bunyi nafas ; normal vesikuler. Pergerakan dada interkostal. Tidak terlihat gerakan cuping hidung, tidak terlihat Cyanosis, tidak terlihat keringat pada dahi. Hasil thorax AP tanggal 4 Mei 2002 : Tidak didapatkan kelainan (normal).
(2) Cardiovascular (B 2 : Bleeding)
Nadi frekuensi 92 X/menit kuat dan teratur, tekanan darah 170/130 mmHg, Suhu 36 0C, perfusi hangat. Bunyi jantung normal, Cor S1 S2 tunggal reguler, ekstra sistole/murmur tidak ada, Pembesaran jantung tidak ada, Nyeri dada tidak ada, Clubbing finger tidak ada.
Hasil ECG : Tidak didapatkan kelainan (normal).
(3) Persyarafan (B 3 : Brain)
Tingkat kesadaran (GCS) Membuka mata : Spontan (4)
Verbal : Orientasi baik (5)
Motorik : Menurut perintah (6)
Compos Mentis : Pasien sadar baik
(4) Perkemihan-Eliminasi Uri (B.4 : Bladder)
Jumlah urine 1500 cc/24 jam, frekuensi 3 – 4 X /hr, warna urine kuning, bau normal.
Genital Hygiene cukup bersih.
Hasil BOF : Tidak didapatkan kelainan (normal).
(5) Pencernaan-Eliminasi Alvi (B 5 : Bowel)
Peristaltik normal, tidak kembung, tidak terdapat obstipasi maupun diare, klien buang air besar 1 X/hari
(6) Tulang-Otot-Integumen (B 6 : Bone)
Tidak terdapat kontraktur maupun dikubitus
Hasil BOF : Tidak didapatkan kelainan (normal).
Head To Toe
a. Kepala : bentuk normal, ukuran normal, posisi simetris, kulit kepala bersih
b. Rambut : kebersihan cukup
c. Mata : kehilangan pengelihatan perifer, pengelihatan kabur dan penurunan persepsi sinar. Adanya bayangan sekitar cahaya (halo). Nyeri pada mata; tumpul, berat Sering disertai sakit kepala, Mual dan muntah. sklera tak icteric, konjunctiva tak anemis, pupil isokor, refleks cahaya ada, memakai alat bantu kacamata
d. Hidung : tidak ada benda asing, tidak epistaksis, tidak ada polip,
e. Telinga : tidak ada kelainan.
f. Mulut dan gigi : bibir kering, agak kering mukosa mulut stomatatitis tidak, peradangan faring tidak
g. Leher : Tak ada pembesaran kelenjar getah bening, tak ada kaku kuduk
h. Thorax : pernafasan dada, simetris, Ronchi & whezing tidak ada
i. Abdomen : asites tidak ada, umbilikus datar,
j. Alat kelamin luar : bersih
k. Anus : bersih, Bab. terakhir tgl. 6 –05-2002,
l. Extremitas : atas dan bawah tak ada kelainan
m. Integumen : keadaan kulit bersih, tonus baik, turgor baik, akral hangat.
Pola aktivitas sehari-hari
(1) Pola Persepsi Dan Tata Laksana Hidup Sehatan
Klien jarang menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan, kecuali bila sangat terpaksa Klien terbiasa meminum jamu-jamuan dan obat-obat tradisional.
(2) Pola Nutrisi dan Metabolisme
Klien dirumah biasa makan 3 X/hari dengan lauk yang cukup. Klien tidak alergi makanan tertentu. Saat ini klien selalu menghabiskan porsi makanan yang diberikan dan minum air putih sekitar 2 – 3 liter perhari.
(3) Pola Eliminasi
Klien buang air besar 1 X/hari.
Klien buang air besar 3 - 4 X/hari. Jumlah urine 1500 cc/24 jam, warna urine kuning, bau normal.
(4) Pola tidur.dan Istirahat
Klien mengatakan semalam saya tidur sering terbangun , saya membayangkan bagaimana operasi nanti. Klien kurang tidur baik pada waktu siang maupun malam hari. Klien tampak terganggu dengan kondisi ruang perawatan yang ramai.
(5) Pola Aktivitas dan latihan
Klien biasanya bekerja diluar rumah, tapi saat ini klien hanya beristirahat di Rumah Sakit sambil menunggu rencana operasi.
(6) Pola Hubungan dan Peran
Hubungan dengan keluarga, teman kerja maupun masyarakat di sekitar tempat tinggalnya biasa sangat baik dan akrab.
(7) Pola Sensori dan Kognitif
Klien mampu mendengar dengan baik, klien tidak mengalami disorientasi.
(8) Pola Persepsi Dan Konsep Diri
Klien mengalami cemas karena Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan.
(9) Pola Seksual dan Reproduksi
Selama dirawat Klien tidak dapat melakukan hubungan seksual seperti biasanya.
(10) Pola mekanisme/Penanggulangan Stress dan koping
Klien merasa sedikit stress menghadapi tindakan operasi. karena kurangnya pengetahuan tentang Type pembedahan dan Jenis anesthesi.
Klien bertanya dimana ruang operasinya, berapa lama saya dioperasi.
(11) Pola Tata Nilai dan Kepercayaan
Dengan kondisi nyeri yang hebat pada mata kiri memerlukan adaptasi klien dalam menjalankan ibadahnya.
Personal Higiene
Kebiasaan di rumah klien mandi 2 X/hari, gosok gigi 2 X/hari, dan cuci rambut 1 X/minggu.
Ketergantungan
Klien tidak perokok, tidak minum-minuman yang mengandung alkohol.
Aspek Psikologis
Klien terkesan takut akan penyakitnya, merasa terasing dan sedikit stress menghadapi tindakan operasi.
Aspek Sosial/Interaksi
Hubungan dengan keluarga, teman kerja maupun masyarakat di sekitar tempat tinggalnya biasa sangat baik dan akrab. Saat ini klien terputus dengan dunia luar, kehilangan pencari nafkah (bagi keluarganya), biaya mahal.
Aspek Spiritual
Klien dan keluarganya sejak kecil memeluk agama Islam, ajaran agama dijalankan setiap saat. Klien sangat aktif menjalankan ibadah dan aktif mengikuti kegiatan agama yang diselenggarakan oleh mesjid di sekitar rumah tempat tinggalnya maupun oleh masyarakat setempat.
Saat ini klien merasa tergangguan pemenuhan kebutuhan spiritualnya
4. DIAGNOSTIC TEST
Laboratorium tanggal 4 Mei 2002
Darah lengkap:
- Hb :16,2 mg/dl (L 13,5 – 18,0 – P 11,5 – 16,0 mg/dl)
- LED : 15 (L 0 – 15/jam P 0 – 20/jam
- Leukosit : 9.300 4000 – 11.000
Gula darah
- Glukosa Puasa : 91 mg/dl (< 126 mg/dl)
- Glukosa 2 jam pp : 102 mg/dl (< 140 mg/dl)
Faal Hati
- Bilirubin Direk : 0,54 ( 0,25)
- Bilirubin Indirek : 0,78
- Bilirubin Total : 1,32 ( 1,00)
- SGOT : 79 (L < 37 P < 31) U/L
- SGPT : 80 (L < 40 P < 31) U/L
Faal Ginjal
- Ureum/BUN : 24,2 mg/dl (10 – 45)
- Serum Creatinin : 1,68 mg/dl (L : 0,9 – 1,5 P : 0,7 – 1,3)
ANALISA DATA PREOPERASI
Nama Klien : Tn. Hadi Usmantono
Ruang : Mata
Register : 10159584
NO. DATA PENYEBAB/ETIOLOGI MASALAH
S. :Klien mengatakan semalam saya tidur sering terbangun , saya membayangkan bagaimana operasi nanti, klien bertanya dimana ruang operasinya, berapa lama saya dioperasi
O. Klien kelihatan tegang saat diruang mata, Tekanan darah 170/130 mmHg. Nadi 92 X/menit, RR: 24 X/menit Situasi/lngkungan operasi
Ansietas/takut
Stressor
Hypothalamus
(adrena,pituitary)
Medulla Adrenal
Peningkatan
Adrenalin
Histamin
Katekolamin
Perubahan fisikTegang Nadi cepat palpitasi berkeringat respirasi cepat Tanda-tanda Psiko : Gelisah Tidak tenang, marah, tidak. berdaya
Ansietas
O :
S : Klien mengatakan kurang mengetahui tentang proses penyakit, perawatan maupun pengobatan serta kurangnya pengetahuan tentang dampak hipertansi dan diet Kurangnya informasi. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan
Diagnosa Keperawatan
Cemas berhubungan dengan situasi/lingkungan ruang perawatani dan prosedur operasi, ditandai dengan klien mengatakan tidur malam sering terbangun membayangkan operasi, klien kelihatan tegang, bertanya saat di ruang perawatan dimana kamar operasinya, berapa lama saya dioperasi. Nadi 92X/menit, Tekanan darah 170/130 mmHg. RR. 24X/menit.
Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.
RENCANA INTERVENSI ASUHAN KEPERAWATAN PREOPERASI
Nama Klien : Tn. Hadi Usmantono
Ruang : Mata
Register : 10159584
DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN-KRITERIA HASIL RENCANA INTERVENSI RASIONAL
Cemas berhubungan dengan Situasi/lingkungan ruang perawatan dan prosedur operasi.
Ditandai klien mengatakan semalam tidur saya sering terbangun membayangkan operasi, klien bertanya, dimana ruang operasi dan berapa lama dioperasi, klien kelihatan tegang saat di ruang perawatan tekanan darah, 170/130 mmHg/ Nadi 92X/menit, RR24 X/menit Klien menunjukan rasa cemas berkurang dalam waktu 30 menit dengan kriteria :
Klien mampu mengungkapkan pasrah kepada Tuhan YME.
Klien mampu mengungkapkan siap di operasi.
Klien dapat beradaptasi saat di ruang perawatan maupun di OK.
Tanda-tanda vital stabil
(Tekana Darah 120/80 mmHg., Nadi 60-100X/menit, RR: 12-20X/menit, wajah rileks. Mandiri :
1. Mengkaji tingkat kecemasan klien.
2. Memberikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan cemasnya.
3. Menggunakan komunikasi terapeutik.
4. Memberikan informasi tentang proses penyakit dan rencana tindakan operasi.
5. Memperjelas penjelasan dokter tentang rencana pengangkatan isi bola mata.
6. Memberikan keyakinan kepada klien bahwa perawat, dokter dan tim kesehatan lain selalu berusaha memberikan pertolongan yang terbaik dan seoptimal mungkin.
7. Mengajak klien untuk mendekatkan diri kepada Tuhan YME, dengan cara berdoa.
8. Memberikan kesempatan pada keluarga untuk mendampingi klien secara bergantian.
9. Menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman.
10. Mengukur tanda-tanda vital : tekanan darah 160/120 mmHg/ Nadi 88 x/menit, RR 20 X/menit
11. Mengkolaborasikan dengan tim gizi dan tim dokter tentang pemberian diet rendah garam dan pemberian obat anti hipertensi.
1 Untuk menentukan tingkat kecemasan yang dialami pasien sehingga perawat bisa memberikan intervensi yang cepat dan tepat.
2 Dapat meringankan beban pikiran pasien.
3 Agar terbina rasa saling percaya antar perawat-pasien sehingga pasien kooperatif dalam tindakan keperawatan.
4 Informasi yang akurat tentang penyakitnya dan keikutsertaan pasien dalam melakukan tindakan dapat mengurangi beban pikiran pasien.
5 Harapan klien sesuai dengan kenyataan dan tidak menimbulkan kekecewaan.
6 Sikap positif dari timkesehatan akan membantu menurunkan kecemasan yang dirasakan pasien.
7 Mengurangi ketakutan / kecemasan.upaya menenangkan jiwa.
8 .Pasien akan merasa lebih tenang bila ada anggota keluarga yang menunggu.
9 Lingkung yang tenang dan nyaman dapat membantu mengurangi rasa cemas pasien.
10 Untuk mendeteksi perkembangan tekanan darah.
11 Pemberian diet yang sesuai dan obat anti hipertensi yang tepat dapat mempercepat penurunan tekanan darah dan mencegah komplikasi.
Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan, dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. Tujuan : Pasien memperoleh informasi yang jelas dan benar tentang penyakitnya.
Kriteria Hasil :
1. Pasien mengetahui tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatannya dan dapat menjelaskan kembali bila ditanya.
2. Pasien dapat melakukan perawatan diri sendiri berdasarkan pengetahuan yang diperoleh.
1. Kaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga tentang penyakit Glaukoma dan Hipertensi
2. Kaji latar belakang pendidikan pasien.
3. Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan pada pasien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti.
4. Jelasakan prosedur yang kan dilakukan, manfaatnya bagi pasien dan libatkan pasien didalamnya. 1. Untuk memberikan informasi pada pasien/keluarga, perawat perlu mengetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan yang diketahui pasien/keluarga.
2. Agar perawat dapat memberikan penjelasan dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang dapat dimengerti pasien sesuai tingkat pendidikan pasien.
3. Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.
4. Dengan penjelasdan yang ada dan ikut secara langsung dalam tindakan yang dilakukan, pasien akan lebih kooperatif dan cemasnya berkurang.
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI PREOPERASI
Nama Klien : Tn. Hadi Usmantono
Ruang : Mata
Register : 10159584
DIAGNOSA KEPERAWATAN HARI/
TANGGAL/
JAM IMPLEMENTASI KEPERAWATAN HARI/
TANGGAL/
JAM EVALUASI (SOAP)
Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang tindakan operasi Senin,
06-05-2002 Jam 13.00 1. Mengkaji tingkat kecemasan klien
2. Memberikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan cemasnya.
3. Menggunakan komunikasi terapeutik
4. Memberikan informasi tentang proses penyakit dan rencana tindakan operasi.
5. Memperjelas penjelasan dokter tentang rencana pengangkatan isi bola mata.
6. Memberikan keyakinan kepada klien bahwa perawat, dokter dan tim kesehatan lain selalu berusaha memberikan pertolongan yang terbaik dan seoptimal mungkin.
7. Mengajak klien untuk mendekatkan diri kepada Tuhan YME, dengan cara berdoa.
8. Memberikan kesempatan pada keluarga untuk mendampingi klien secara bergantian.
9. Menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman.
10. Mengukur tanda-tanda vital : tekanan darah 160/120 mmHg/ Nadi 88 x/menit, RR 20 X/menit
11. Mengkolaborasikan dengan tim gizi dan tim dokter tentang pemberian diet rendah garam dan pemberian obat anti hipertensi. Senin,
06-05-2002 Jam 13.30 S : Klien mengatakan siap untuk dilakukan operasi, pasrah dan menyerahkan sepenuhnya pada Tuhan.
O : Klien dapat mengidentifikasikan sebab-sebab kecemasan.
Emosi stabil.
Ekspresi wajah klien tenang,
Istirahat cukup Nadi 88X/menit, RR, 20X/menit, Tekanan Darah 160/120 mmHg.
A : Tujuan tercapai sebagian.
P : Intervensi terus dilanjutkan.
Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan, dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. Selasa,
07-05-2002 Jam 08.00 1. Mengkaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga tentang penyakit Glaukoma dan Hipertensi
2. Mengkaji latar belakang pendidikan pasien.
3. Menjelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan pada pasien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti.
4. Menjelasakan prosedur yang kan dilakukan, manfaatnya bagi pasien dan libatkan pasien didalamnya. Selasa,
07-05-2002 Jam 08.30 S :
O :
1. Pasien mengetahui tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatannya dan dapat menjelaskan kembali bila ditanya.
2. Pasien dapat melakukan perawatan diri sendiri berdasarkan pengetahuan yang diperoleh.
A : Tujuan Berhasil
P : Intervensi dihentikan
Rabu,
08-05-2002 Jam 08.00 1. Menciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman.
2. Mengukur tanda-tanda vital.
3. Meneruskan pemberian obat Captopril 3 x 12,5 mg/hr Rabu,
08-05-2002 Jam 08.00 S :
O : Tekanan darah 150/110 mmHg.
Nadi 84 x/menit. RR 20 X/menit
Suhu 36,5 0C
A : Tujuan tercapai sebagian.
P : Intervensi terus dilanjutkan.
Kamis,
09-05-2002 Jam 08.00 1. Menciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman.
2. Mengukur tanda-tanda vital :
3. Meneruskan pemberian obat Captopril 3 x 12,5 mg/hr Kamis,
09-05-2002 Jam 08.00 S :
O : Tekanan darah 140/100 mmHg.
Nadi 80 x/menit. RR 20 X/menit
Suhu 36,5 0C
A : Tujuan tercapai sebagian.
P : Intervensi terus dilanjutkan.
Jumat,
10-05-2002 Jam 08.00 1. Menciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman.
2. Mengukur tanda-tanda vital : tekanan darah 130/90 mmHg/ Nadi 80 x/menit, RR 20 X/menit
3. Meneruskan pemberian obat Captopril 3 x 12,5 mg/hr
4. Jumat,
10-05-2002 Jam S :
O : Tekanan darah 130/90 mmHg.
Nadi 80 x/menit. RR 20 X/menit
Suhu 36,5 0C
A : Tujuan tercapai sebagian.
P : Intervensi terus dilanjutkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar