Nama : Gunawan saelendra
NIM : 04.08.2099
Kelas : E/KP/VI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat diselenggarakan upaya kesehatan dengan upaya peningkatan derajat kesehatan (promotif), pencegahan (preventif), penyumbatan (kuratif), pemulihan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara menyeluuh, terpadu dan berkesinambungan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan diselenggarakan untuk pengembalian status kesehatan akibat dari cacat atau kehilangan fungsi tubuh untuk meningkatkan sumber daya manusia.
Semakin meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi, semakin meningkat pula jumlah kasus trauma khususnya kecelakaan. Salah satu kasunya adalah Fraktur akibat yang timbul apabila fraktur tidak segera ditangani akan dapat menimbulkan penyakit, kelumpuhan, kecacatan bahkan kematian. Hal ini didukung oleh kesalahan diagnostik, pengelolaan dan penanganan komplikasi.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk dapat memperoleh gambaran nyata atau informasi tentang asuhan keperawatan pada pasien fraktur.
2. Tujuan Khusus
Agar mahasiswa mampu menyusun asuhan keperawatan yang terdiri dari pengkajian, membuat diagnosa keperawatan, menyusun rencana keperawatan, melaksanakan tindakan keperawatan dan melakukan evaluasi keperawatan pada pasien fraktur.
BAB II
PEMBAHASAN
A. DASAR TEORI
1. Pengertian
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri, dan jaringan lunak disekitar tulang akan akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan pada fraktur tidak lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang. Dan definisi Fraktur dari berbagai sumber yaitu :
Fraktur adalah diskontinuitas struktur pada tulang (Sylvia Anderson, 1995 : 261).
Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang (Marilynn E. Doenges, 2000 : 761). Sedangkan Faraktur femur 1/3 distal adalah suatu keadaan terputusnya kontinuitas tulang femur pada bagian ujung. Sinistra adalah bagian badan tubuh sebelah kiri sedangkan dextra adalah bagian tubuh sebelah kanan.
Dari beberapa pengertian diatas, disimpulkan bahwa pengertian fraktur femur 1/3 distal sinistra adalah terputusnya kontinuitas struktur tulnag femur kiri pada 1/3 bagian ujung.
Fraktur terbagi menjadi 2 jenis yaitu Fraktur terbuka dan tertutup :
Ø Fraktur tertutup: Fraktur dimana kulit tidak ditembus fragmen tulang, sehingga tempat fraktur tidak tercemar oleh lingkungan.
Ø Fraktur terbuka : Fraktur dimana kulit dari extremitas yang terlibat telah di tembus. Konsep penting yang perlu diperhatiakan adalah apakah terjadi kontaminasi oleh lingkungan pada tempat terjadinya fraktur terbuka. Fragmen fraktur dapat menembus kulit pada saat terjadinya cedera, terkontminasi, kenudian kembali hampir pada posisi semula. Pada keadaan semacam ini maka operasi untuk irigasi, debridemen dan pemberian antibiotika secara intravena mungkin diberikan untuk untuk mencegah terjadinya oateomielitis. Pada umumnya operasi irigasi dan debridemen pada fraktur terbuka harus dilakukan dalam waktu 6 jam setelah terjadinya cedera untuk mengurangi terjadinya infeksi.
Fraktur terbagi menjadi beberapa tingkatan/grade menurut tingkat keparahannya yaitu:
Grade I : sakit jelas, dan sedikit kerusakan kulit
Grade II : fraktur terbuka dan sedikit keruakan kulit
Grade III : banyak sekali jejak kerusakan kulit, otot dan jaringan syaraf, pembuluh darah serta luka sebesar 6-8 cm.
2. Etiologi
Fraktur dapat disebabkan oleh |
· Trauma atau tenaga fisik
· Tumor (tumor primer ataupun tumor metastase)
· Dua tulang menumbuk tulang ketiga yang berada diantaranya.
· Osteoporosis, infeksi atau penyakit lain.
Etiologi patah tulang menurut Barbara C. Long adalah
1. Fraktur akibat peristiwa trauma
Jika kekuatan langsung mengenai tulang maka dapat terjadi patah pada tempat yang terkena, hal ini juga mengakibatkan kerusakan pada jaringan lunak disekitarnya. Jika kekuatan tidak langsung mengenai tulang maka dapat terjadi fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena dan kerusakan jaringan lunak ditempat fraktur mungkin tidak ada.
2. Fraktur akibat kecelakaan atau tekanan.
Tulang jika bisa mengalami otot-otot yang berada disekitar tulang tersebut tidak mampu mengabsorbsi energi atau kekuatan yang menimpanya.
3. Fraktur Patologis Adalah suatu fraktur yang secara primer terjadi karena adanya proses pelemahan tulang akibat suatu proses penyakit atau kanker yang bermetastase atau osteopororsis.
3. Patofisiologi
Ketika tulang patah, periosteum dan pembuluh darah di bagian korteks, sumsum tulang dan jaringan lunak didekatnya (otot) cidera pembuluh darah ini merupakan keadaan derajat yang memerlukan pembedahan segera sebab dapat menimbulkan syok hipovolemik. Pendarahan yang terakumulasi menimbulkan pembengkakan jaringan sekitar daerah cidera yang apabila ditekan atau digerakkan dapat timbul rasa nyeri yang hebat yang mengakibatkan syok neurogenik.
Kerusakan pada kulit dan jaringan lainnya dapat timbul oleh karena trauma atau mecuatnya fragmen tulang yang patah. Apabila kulit robek an luka memiliki hubungan dengan tulang yang patah maka dapat mengakibatkan kontaminasi sehingga resiko infeksi akan sangat besar.
Sedangkan kerusakan pada system persarafan, akan menimbulkan kehilangan sensasi yang dapat berakibat paralysis yang menetap pada fraktur juga terjadi keterbatasan gerak oleh karena fungsi pada daerah yang cidera.
4. Tanda Dan Gejala.
1) Pada tulang traumatic dan cedera jeringan lunak biasanya disertai nyeri. Setelah terjadi patah tulang terjadi spasme otot yang menambah rasa nyeri. Pada fraktur stress, nyeri biasanya timbul pada saat aktifitas dan hilang pada saat istirahat. Fraktur patologis mungkin tidak disertai nyeri.
2) Nyeri, bengkak, dan nyeri tekan pada daerah fraktur (tenderness)
3) Deformitas : perubahan bentuk tulang
4) Mungkin tampak jelas posisi tulang dan ektrimitas yang tidak alami.
5) Pembengkakan disekitar fraktur akan menyebabkan proses peradangan.
6) Hilangnya fungsi anggota badan dan persendian terdekat.
7) Gerakan abnormal.
8) Dapat terjadi gangguan sensasi atau rasa kesemutan, yang mengisyaratkan kerusakan syaraf. Denyut nadi dibagian distal fraktur harus utuh dan setara dengan bagian nonfraktur. Hilangnya denyut nadi sebelah distal mungkin mengisyaratkan syok kompartemen.
9) Krepitasi suara gemeretak akibat pergeseran ujung-ujung patahan tulang satu sama lain.
Tanda-tanda fraktur pasti
1. Deformitas
2. Krepitasi
3. False movement (gerakan yang tak biasa)
4. Foto rontgen
Tanda-tanda fraktur tak pasti
1. Odema
2. Nyeri tekan
3. Nyeri gerak
4. Luka
5. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1) Pemeriksaan dengan sinar X (rontgen) dapat membuktikan fraktur tulang.
2) Scan tulang dapat membuktikan adanya fraktur stress.
3) arteriogram dialakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
4) hitung darah lengkap : Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (perdarahan bermakana pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multiple. Peningkatan jumlah SDP adalah respon stress normal setelah trauma.
5) kreatinin trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal.
6. KOMPLIKASI FRAKTUR
1. Trauma syaraf
2. Trauma pembuluh darah
Indikasi ischemia post trauma : pain, pulseless, parasthesia, pale, paralise → kompartemen syndrome : kumpulan gejala yang terjadi karena kerusakan akibat trauma dalam jangka waktu 6 jam pertama, kalau tidak di bersihkan maka sampai terjadi nekrose → amputasi.
3. Komplikasi tulang :
a. Delayed union : penyatuan tulang lambat
b. Non union (tidak bisa nyambung)
c. Mal union (salah sambung)
d. Kekakuan sendi
e. Nekrosis avaskuler
f. Osteoarthritis
g. Reflek simpatik distrofi
4. Stress pasca trumatik
5. Dapat timbul embolik lemak setelah patah tulang, terutama tulang panjang.
7. Penatalaksanaan.
1. Reposisi, mengembalikan allgment dapat dicapai dengan manipulasi tertutup atau operasi terbuka.
2. Immobilisasi, mempertahankan posisi dengan
1. Fiksasi eksterna (gips dan traksi)
2. Fiksasi interna (orif), dengan lempeng logam (plate) dan nail yang melintang pada cavum medularis tulang.
ASUHAN KEPERWATAN PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR
I. Pengkajian
1. Riwayat keperawatan
a. Data biografi
b. Riwayat perkembangan
c. Riwayat social
d. Riwayat kesehatan yang lalu
e. Riwayat kesehatan sekarang :
Data Subyektif
a. Mengeluh/dilaporkan adanya :
b. Nyeri/edema otot, sendi, tulang, dengan/tanpa gerak
c. Kelemahan ekstrimitas
d. Keterbatasan aktifitas dan gerakan
e. Anoreksia, insomnia, frustasi, takut
Data Obyektif
a. KU
b. Tanda vital
c. Nyeri tekan
d. Sendi : kemerahan, bengkak, panas pada perabaan, nyeri tekan dan nyeri pada gerakan serta keterbatasan sendi gerakan sendi.
e. Gangguan status neurovaskuler ekstrimitas (warna kulit anggota gerak yang pucat desertai perabaan dingin)
f. Sulit bernafas
g. Deformitas
h. Krepitsi
i. Kontraktur (dapat terjadi akibat spasme yang terus menerus, pasca trauma)
j. Postur/sikap badan serta cara berjalan
k. Luka
l. Food – droop
m. Pemakaian Gips, protese, kruk alat Bantu dll
n. Alergi dll
2. Pemeriksaan fisik.
a. Inspeksi (penampilan umum/sikap, dan bentuk tubuh, jaringan lunak/otot, kulit, tulang, dan sendi)
b. Palpasi (sendi, tulang, kulit)
c. Kekuatan otot
d. Pemriksaan neurology (hilangnya gerakan/sensasi, spasme otot, kebas/kesemutan
3. Pemeriksaan psikososial.
4. Pemeriksaan penunjang.
Prioritas perawatan
1. Mencegah cedera tulang/jaringan lanjut.
2. Menghilangkan nyeri.
3. Mencegah komplikasi
4. Memberikan informasi tentang kondisi/prognosis dan kebutuhan pengobatan.
II. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawaan yang ditegakkan pada pasien fraktur (Marilyn E. Doenges)
a. Nyeri berhubungan deNgan spasme otot, pergerakan fragmen tulang, edema, cidera pada jaringan lunak, alat traksi / immobilisasi, stress dan anestessi.
b. Resiko tinggi disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dnegan penurunan / interupsi thrombus.
c. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan degan tak adekuatnya pertahanan primer (kerusakan kulit, trauma jaringa, terpapar pada lingkungan) prosedur invasive, traksi tulang.
d. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromoskuler (nyeri/ketidaknyamanan).
e. Resiko tinggi terhadap trauma tambahan berhubungan dengan kehialngan integritas tulang.
f. Aktual / resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan cidera tusuk (Fraktur terbuka, bedah perbaikan, pemasangan traksi pen/kawat / sekrup) eprubahan sensasi, perubahan sirkulasi, akumulasi ekskresi / sekret, immobilitas fisik.
III. Intervensi Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan spasme otot, pergerakan fragmen tulang, edema, cidera pada jaringan lunak, alat traksi / immobilisasi, stress dan anestesi.
Tujuan : menyatakan nyeri tulang
Kriteria hasil : menunjukkan tindakan santai, mampu berpartisipasi dalam aktivitas dnegan tepat dan emnunjukkan penggunaan ketrampilan. Relaksasi dan aktivitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individual.
Intervensi :
1. Pertahankan immobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips, pembebat, traksi.
2. Dukung an tinggikan ekstremitas yang terkena.
3. Evaluasi keluhan nyeri
4. Dorong menggunakan teknik menejemen stress contoh : Relaksasi progresif, latihan nafas dalam.
5. Berikan obat sebelum perawatan aktivits.
b. Resiko tinggi disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan penurunan / interupsi aliran drah, cidera vaskuler langsung, edema berlebihan, pembentukan thrombus.
Tujuan : mempertahankan perfusi jaringan
Kriteria hasil : perfusi jaringan dapat dieprtahankan, dibuktikan oleh terabanya nadi, kulit kering / hangat, sensasi normal, sensori biasa, tanda vital stabil dan keluaran urine adekuat untuk situasi.
Intervensi :
1. Lakukan pengajian neuromuskuler
2. Pertahankan peninggian ekstremitas yang cedera kecuali indikasi.
3. Kaji keseluruhan panjang eekstremitas yang cedera untuk pembengkakan / pembentukan edema.
4. SElidiki tanda eskemia ekstremitas tiba-tiba.
5. Dorong pasien untuk latihan jari /sendi distal cedera secara rutin.
c. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tak adekuatnya pertahanan primer (keruskan kulit, trauma, jaringa, terpapar pada lingkungan / prosedur invasif, traksi tulang.
Tujuan : mencapai penyembuhan luka sesuai waktu.
Kriteria hasil : bebas drainase parulen atau eritem dan demam.
Intervensi :
1. Inspeksi kulit untuk adanya iritasi atau robekan kontinuitas.
2. Instruksikan pasien untuk tidak menyentuh isis insersi.
3. Kaji tonus otot, refleks endon dalam dan kemampuan berbicara.
4. Selidiki nyeri tiba-tiba / keterbatasan gerakan dengan edema lokal / eritema ekstremitas cedera.
5. Awasi pemeriksaan laboratorium : hitung darah lengkap, LED, kultur dan sensivitas luka /seram / tulang.
d. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengahn kerusakan neuromuskler ( nyeri / ketidaknyamanan, terapi restriktif / immonilsasi tungkai).
Tujuan : meningkatkan / mempertahankan mobilitas pada tingkat yang paling tinggi yang mungkin.
Kriteria hasil : memprtahankan posisi fungsional, meningkatnya kekuatan / fungsi yang sakit dan menunjukkan teknis yang memampukan melakukan aktivitas.
Intervensi :
1. Kaji derajat immobilitas yang dihasilkan cedera / pengobatan.
2. Dorong partisipasi pada aktivitas terapeutik / rekreasi.
3. Tinggikan eketremitas yang sakit.
4. Jelaskan pantangan dan keterbatasan dalam aktivitas.
5. Bantu / dorong perawatan diri / kebersihan.
e. Resiko tinggi terhadap trauma tambahan berhubungan dengan kehilangan integritas tulang.
Tujuan : memeprtahankan stabilitas dan posisi fraktur.
Kriteria hasil : menunjukkan mekanika tubuh yang meningkatkan stabilisasi pada sisi fraktur dan menunjukkan pembentukan kalus / mulai penyatuan fraktur dengan tepat.
Intervensi :
1. Pertahankan tirah baring . ekstremitas sesuai indikasi.
2. Letakkan papan dibawah tempat tidur.
3. Sokong fraktur dengan bantal.
4. Evaluasi pembebat ekstremitas terhadap resolusi edema.
5. Kaji ulang foto Rontgen.
f. Aktual / resiko tinggi terhadap kerusakan integrutas kulit / jaringan berhubungan dengan cedera tusuk (fraktur terbuka, bedah perbaikan, permasalahan, pemasangan traksi pen / kawat / sekrup) perubahan sensasi, perubahan sirkulasi, akumulasi ekskresi, immobilisasi fisik.
Tujuan : ketidaknyamanan hilang
Kriteria hasil : menyatakan ketidaknyamanan hilang menunjukkan perilaku / teknik untuk mencegah keruakan kulit / memudahkan penyembuhan luka dan mencapai penyembuhan luka sesuai waktu / penyembuhan lesi terjadi.
Intervensi :
1. Masae kulit dan penonjolan tulang.
2. Pertahankan tempat tidur kering dan bebas kerutan.
3. Ubah posisi dengan sering.
IV. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan dilakukan sesuai dengan keperawatan yang ada dan perencanaan keperawatan yang telah disusun dnegan melibatkan tim keehatan yang lain serta pasien dan keluarga.
V. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperwatan dilakukan setelah implementasi diterapkan dan mengacu pada kriteria hasil yang telah disusun sebagai tolak ukur keberhasilan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Fraktur Femur mempunyai insidens yang cukup tinggi diantara jenis-jenis patah tulang. Umumnya Fraktur Femur terjadi pada batang Femur 1/3 tengah. Fraktur di daerah kaput, kolum, trokanter, substrokanter, suprakondilus biasanya memerlukan tindakan operatif.
Daerah paha yang patah tulangnya sangat membengkak, ditemukan apda funcho laesa, nyeri tekan dan nyeri gerak. Tampak adanya deformitas angulasi kelateral atau angulasi anterior, endo /eksorotas.
Daftar Pustaka
PRICE, Syilvia Anderson, 1995, Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit, EGC Jakarta
Corwin, Elizabeth J, 2000, Buku saku patofisiologi, EGC Jakarta
Doenges, Marilynn E, 1999, Rencana asuhan keperawatan: pedoman untuk perencanaandan perwatan pasien, EGC Jakarta.
Long, Barbara C, 2000, Perawatan Medikal Bedah I, Alih Bahasa : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran, Bandung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar