NAMA : IMADE HENDRA SUBAWA
KELAS : E/KP/VI
NIM : 04.08.2104
BAB I
PENDAHULUAN
HIPERTENSI
A. Latar Belakang
Tekanan darah tinggi yang disebut hipertensi sudah sangat umum para penderita umumnya tidak menyadari bahwa merekan menderita hipertensi. Tetapi bila dibiarkan tanpa perawatan maka itu akan menimbulkan kerumitan yang membahayakan. Orang yang berusia lima puluhan adalah masa usia penuh dengan resiko. Oleh sebab itu perlu pengontrolan tekanan darah untuk penanggulangan lebih dini sehingga tidak berlanjut pada komplikasi yang lebih parah.
Hipertensi adalah masalah yang umum karena banyak orang yang menderita walaupun mereka tidak mengetahui sama sekali. Masalah yang dihadapi pada diagnosa yang agak dini adalah gejala-gejala yang tidak nyata pada umunya. Kelilahatannya mengherankan tetapi demikianlah kenyataannya dan hal ini telah ditemukan diberbagai negara barat. Di Australia agak tinggi presentase penderita hipertensi. Sekalipun ada 10 % penderita hipertensi dari antara kelompok usia lima puluh sampai lima puluh sembilan tahun, hal itu tidak ditemukan sebelumnya. Tekanan darah mereka diatas 110 diastolik.
Ini menunjukkan bahwa penyakit yang parah boleh saja tidak diketahui ditengah tengah masyarakat, dapat pula melumpuhkan kesehatan dan dapat menimbulkan masalah yang berat tetapi penderita tidak mengetahui samasekali mengenai apa yang terjadi. Sering sudah terlambat dan berkomplikasi barulah diketahui penyebab utamanya.
Itulah sebabnya sekarang orang mengetahui bahwa hipertensi itu penyakit yang mempunyai bermacam-macam tingkat sedangkan keadaan yang parah memerlukan pengetahuan yang agak dini supaya segera mendapatkan perhatian dan perawatan. Sudah ditemukan bukti yang cukup yang menyatakan bahwa perawatan yang tepat akan mengurangi jumlah kematian dan hal-hal mengerikan akibat komplikasi dari hipertensi yaitu stroke, penyakit jantung dan ginjal.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk memperoleh gambran nyata atau informasi tentang asuhan keperawatan pada pasien Hipertensi.
2. Tujuan Kusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada pasien hipertensi.
b. Mampu menyusun rencana keperawatan pada pasien Hipertensi.
c. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien Hipertensi.
d. Mampu melakukan evaluasi keperawatan pasa pasien Hipertensi.
C. Metode penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam laporan kasus dengan metode deskriptif dengan teknik pengumpulan data : wawancara, observasi, pemeriksaan fisik dan study dokumentasi.
BAB II
TINJAUAN TEORI
1. Defenisi Hipertensi
Sampai saat ini belum ada definisi yang tepat mengenai hipertensi, oleh karena tidak ada batasan yang jelas yang membedakan antara hipertensi dan normotensi. Namun bukti menunjukkan bahwa peningkatan tekanan darah akan meningkatkan mortalitas dan mordibitas. Secara teoritis, hipertensi sebagai suatu tingkat tekanan darah, dimana komplikasi yang mungkin timbul menjadi nyata. Ada beberapa beberapa pendapat lain yang berusaha untuk menjelaskan definisi hipertensi, diantarannya :
· Hipertensi didefinisikan oleh “joint national committee on detection, evaluation and treatment of high blood pressure (JNC)” sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya, mempunyai rentang dari tekanan darah normal tinggi sampai hipertensi maligna. Keadaan ini dikatagorikan sebagai primer/esensial (hampir 90% dari semua kasus) atau sekunder, terjadi sebagai akibat dari kondisi patologis yang dapat dikenali seringkali dapat diperbaiki.
· Definisi hipertensi adalah tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan tekanan darah diasatolik ≥90 mmHg, atau bila pasien obat antihipertensi. (Kapita Selecta Kedokteran ,2001, hal.518).
· Menurut WHO, hipertensi adalah kenaikan tekanan darah diatas atau sama 160/95 mmHg.
· Menurut Kaplan, Kaplan mendefinisikan hipertensi berdasarkan atas perbedaan usia dan jenis kelamin :
1. Pria usia kurang dari 45 tahun, dikatakan hipertensi apabila tekanan darah pada waktu berbaring diatas atau sama dengan 130/90 mmHg.
2. Pria usia lebih dari 45 tahun, dikatakan hipertensi apabila tekanan darahnya diatas 145/95 mmHg.
3. Pada wanita tekanan darah diatas atau sama dengan 160/95 mmHg dinyatakan hipertensi.
2. Etiologi
Menurut penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi dua yaitu:
1. Hipertensi Primer atau Esensial.
Hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya, disebut juga hipertensi Taropatik terdapat sekitar 95 % kasus. Banyak factor yang mempengaruhi seperti genetic, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatis, sistim rennin angiostensin, defek dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca Intraseluler dan factor-faktor yang meningkatkan resiko seperti obesitas, alcohol, merokok serta polisetemia.
2. Hipertensi Sekunder atau Hipertensi Renal
Hipertensi ini dapat diketahui penyebabnya dan biasnya disertai keluhan atau gejala-gejala dari penyakit yang menyebabkan hipertensi tersebut. Penyakit yang dapat menyebabkan hipertensi ini misalnya :
a. Kelainan Hormon
1. Pil KB: kontrasepsi oral yang mengandung estrogen menyebabkan peningkatan angiostensinogen dan kemudian akan meningkatkan angiostensin II. Peningkatan angiostensin II ini juga dirangsang oleh pengeluaran rennin akibart peningkatan stimulasi syaraf simpatis. Akibat peningkatan angiostensin II ada 2 hal yaitu : aspek konstriktor arteriola perifer dan peningkatan sekresi aldosteron yang mengakibatkan reasorbsi Na dan air.
2. Neokromositoma/Tumor Medulla Adrenal atau jaringan pensekresi ketoalamin di bagian lain tubuh: tumor ini mensekresi epinefrin yang menyebabkan kadar glukosa plasma dan tingkat metabolisme meningkat sehinngga memungkinkan terjadinya hipertensi.
3. Sindrom Chusing, hipertensi pada penyakit ini diakibatkan oleh peningkatan ACSH yang kemudian merangsang peningkatan glukortikod (kortisol) sehingga menyebabkan glukonegenesis dan perubahan dalam distribusi jaringan adipose. Dua hal tersebut meningkatkan obesitas.
b. Penyakit Metabolic
Diabetes mellitus : pada DM terjadi netropati diabetic mikroangiopati diabetic sehingga mengakibatkan nefropati diabetic dan disfungsi filtrasi glomerulo.
c. Penyakit Ginjal
Penyakit ginjal dapat meningkatkan tekanan darah dan sebaliknya hipertensi dalam jangka waktu yang lama dapat mengganggu ginjal. Secara klinis sulit untuk membedakan dua keadaan tersebut, terutama pada penyakit ginjal menahun. Beratnya pengaruh hipertensi terhadap ginjal tergantung dari tingginya tekanan darah dan lamanya menderita hipertensi. Makin tinggi tekanan darah dalam waktu lama makin berat komplikasi yang mungkin ditimbulkan.
Hipertensi pada penyakit ginjal dapat terjadi pada penyakit ginjal akut maupun penyakit ginjal kronik, baik pada kelainan glumerolus maupun pada kelainan vaskular. Hipertensi pada penyakit ginjal dapat dikelompokkan dalam :
1. Penyakit glumerolus akut
Hipertensi terjadi karena adanya retensi natrium yang menyebabkan hipervolemik. Retensi natrium terjadi karena adanya peningkatan reabsorbsi natrium di duktus koligentes. Peningkatan ini dimungkankan abibat adanya retensi relatif terhadap Hormon Natriuretik Peptida dan peningkatan aktivitas pompa Na – K – ATPase di duktus koligentes.
2. Penyakit vaskuler
Pada keadaan ini terjadi iskemi yang kemudian merangsang sistem renin angiotensin aldosteron.
3. Gagal ginjal kronik
Hipertensi yang terjadi karena adanya retensi natrium, peningkatan sistem Renin Angiotensinogen Aldosteron akibat iskemi relatif karena kerusakan regional, aktifitas saraf simpatik yang meningkat akibat kerusakan ginjal, hiperparatiroidis sekunder, dan pemberian eritropoetin.
4. Penyakit glumerolus kronik
SistemRenin- Angiotensinogen- Aldoteron (RAA) merupakan satu sistem hormonal enzimatik yang bersifat multikompleks dan berperan dalm naiknya tekanan darah, pangaturan keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit.
d) Hipertensi pada penyakit renovaskular
Hipertensi renovaskular merupakan penyebab tersering dari hipertensi sekunder. Diagnosa hipertensi renovaskular penting karena kelainan ini potensial untuk disembuhkan dengan menghilangkan penyebabnya yaitu stenosis arteri renalis. Stenosis arteri renalis adalah suatu keadaan terdapatnya lesi obstruktif secara anatomik pada arteri renalis. Sedangkan hipertensi renovaskular adalah hipertensi yang terjadi akibat fisiologis adanya stenosis arteri renalis.
Istilah nefropati iskemik menggambarkan suatu keadaan terjadinya penurunan fungsi ginjal akibat adanya stenosis arteri renalis. Jika terjadi gangguan fungsi ginjal, kelainan ini akan menetap walaupun tekanan darahnya dapat dikendalikan dengan pengobatan yang meliputi medikamentosa antihipertensi, revaskularisasi dengan tindakan bedah ataupun angioplasti.
e) Hipertensi pada kelainan endokrin
Salah satu penyakit yang disebabkan oleh kerusakan endokrin adalah aldosteronisme primer (Sindrom Conn). Hiperaldosteronisme primer adalah sindrom yang disebabkan oleh hipersekresi aldesteron yang tidak terkendali yang umumnya berasal dari kelenjar korteks adrenal. Hiperaldosteronisme primer secara klinis dikenal dengan triad terdiri dari hipertensi, hipokalemi, dan alkalosis metabolik. Sindrom ini disebabkan oleh hiperplasi kelenjar korteks adrenal, adenoma atau karsinoma adrenal.
f) Sindrom Cushing
Sindrom cushing disebabkan oleh hiperplasi adrenal bilateral yang disebabkan oleh adenoma hipofisis yang menghasilkanAdenocortico tropin Hormone(A CTH ).
g) Hipertensi adrenal kongenital
Hipertensi adrenal kongenital merupakan penyabab terjadinya hipertensi pada anak (jarang terjadi).
h) Feokromositoma
Feokromositoma adalah salah satu hipertensi endokrin yang patut dicurigai apabila terdapat riwayat dalam keluarga. Tanda – tanda yang mencurigai adanya feokromositoma yaitu hipertensi, sakit kepala, hipermetabolisme, hiperhidrosis, dan hiperglikemia. Feokromositomia disebabkan oleh tumor sel kromatin asal neural yang mensekresikan katekolamin. Sebagian besar berasal dari kelenjar adrenal, dan hanya 10 % terjadi di tempat lain dalam rantai simpatis. 10 % dari tumor ini ganas dan 10 % adenoma adrenal adalah bilateral. Feokromositomia dicurigai jika tekanan darah berfluktuasi tinggi, disertai takikardi, berkeringat atau edema paru karena gagal jantung.
i) Koartasio aorta
Koarktasi aorta paling sering mempengaruhi aorta pada distal dari arteri subklavia kiri dan menimbulkan hipertensi pada lengan dan menurunkan tekanan pada kaki, dengan denyut nadi arteri femoralis lemah atau tidak ada. Hipertensi ini dapat menetap bahkan setelah reseksi bedah yang berhasil, terutama jika hipertensi terjadi lama sebelum operasi.
j) Hipertensi pada kehamilan
Hipertensi pada kehamilan merupakan penyebab utama peningkatan morbiditas dan mortalitas maternal, janin dan neonatus. Kedaruratan hipertensi dapat menjadi komplikasi dari preeklampsia sebagaimana yang terjadi pada hipertensi kronik. Perempuan hamil dengan hipertensi mempunyai risiko yang tinggi untuk terjadinya komplikasi yang berat seperti abruptio plasenta, penyakit serebrovaskuler, gagal organ, koagulasi intravaskular. Penelitian observasi pasien hipertensi kronik yang ringan didapatkan risiko kehamilan preaklampsia 10 – 25 %, abruptio 0,7 – 1,5 %, kehamilan prematur kurang dari 37 minggu 12 – 34 %, dan hambatan pertumbuhan janin 8 – 16 %. Risiko bertambah pada hipertensi kronik yang berat pada trimester pertama dengan didapatnya preaklampsia sampai 50 %. Terhadap janin, mengakibatkan risiko retardasi perkembangan intrauterin, prematuritas dan kematian intrauterin. Selain itu risiko hipertensi seperti gagal jantung, ensepalopati, retinopati, perdarahan serebral, dan gagal ginjal akut dapat terjadi. Sampai sekarang yang belum jelas apakah tekanan darah yang terkontrol secara agresif dapat menurunkan terjadinya eklampsia
k) Hipertensi akibat dari penggunaan obat – obatan.
Penggunaan obat yang paling banyak berkaitan dengan hipertensi adalah pil kontrasepsi oral (OCP). 5% perempuan mengalami hipertensi sejak mulai penggunaan. Perempuan usia lebih tua (> 35 tahun)lebih mudah terkena, begitupula dengan perempuan yang pernah mengalami hipertensi selama kehamilan. Pada 50 % tekanan darah akan kembali normal dalam 3 – 6 sesudah penghentian pil. Penggunaan estrogen pascamenopause bersifat kardioproteksi dan tidak meningkatkan tekanan darah. Obat lain yang terkait dengan hipertensi termasuk siklosporin, eritopoietin, dan kokain.
3. Manifestasi Klinis
Gejala yang timbul bervariasi, tergantung dari tinggi rendahnya derajat hipertensi. Pada hipertensi esensial dapat berjalan gejala dan pada umumnya baru timbul gejala terjadi komplikasi pada organ target seperti pada ginjal, mata, otak, dan jantung yang sering dijumpai berupa:
1. Sakit kepala
2. Vertigo
3. Perdarahan retina
4. Gangguan penglihatan
5. Proteinuria
6. Hematuria
7. Tachhicardi
8. Palpitasi
9. Pucat dan mudah lelah
Tetapi kebanyakan pula pasien yang menderita hipertensi tidak mempunyai keluhan. Dan ada juga beberapa pasien mengeluh sakit kepala, pusing, lemas, sesak nafas, kelelahan, kesadaran menurun, gelisah, mual, muntah, epistaksis, kelemahan otot atau perubahan mental.
4. Patofisiologi
Mikroangiopati/ Penyempitan congenital segmen
Lesi spesifik diabetic ↓ Aliran darah aorta torakalis
glomerolus
Glomerulo Sel-sel kapiler
Lesi pada
filtrasi glomerolus dan ↑ Kadar glukosa dan
↑ Out put jantung ↑ Curah jantung ↑ Volume darah
|
arteriola perifer pembuluh perifer
Patofisiologi
| ||||
Kerusakan vaskuler
Penyumbatan pembuluh/vasokontriksi
| |||
*sakit kepala aferen+penebalan
*tachicardi
*Perdarahan retina *Perdarahan retina nekrosis kapiler *pucat
*Gangguan penglihatan *Gangguan penglihatan glomerolus *mudah lelah
sampai dgn kebutaan sampai dgn kebutaan *protein uria *palpitasi
|
|
|
Gagal ginjal akut
(komplikasi)
Patofisiologi
Saraf simpatis ↑
Rennin ↑
Angiostensinogen (hati)
Angiostensin I (paru)
Angiostensi II
![]() | ![]() | ||||
Rangsang saraf Vasokontriksi Aldosteron ↑
ADH ↑ Retensi Na
Mekanisme patofisiologi yang berhubungan dengan peningkatan hipertensi esensial antara lain :
1) Curah jantung dan tahanan perifer
Keseimbangan curah jantung dan tahanan perifer sangat berpengaruh terhadap kenormalan tekanan darah. Pada sebagian besar kasus hipertensi esensial curah jantung biasanya normal tetapi tahanan perifernya meningkat. Tekanan darah ditentukan oleh konsentrasi sel otot halus yang terdapat pada arteriol kecil. Peningkatan konsentrasi sel otot halus akan berpengaruh pada peningkatan konsentrasi kalsium intraseluler. Peningkatan konsentrasi otot halus ini semakin lama akan mengakibatkan penebalan pembuluh darah arteriol yang mungkin dimediasi oleh angiotensin yang menjadi awal meningkatnya tahanan perifer yangir reversible.
2) Sistem Renin-Angiotensin
Ginjal mengontrol tekanan darah melalui pengaturan volume cairan ekstraseluler dan sekresi renin.1 Sistem Renin-Angiotensin merupakan sistem endokrin yang penting dalam pengontrolan tekanan darah. Renin disekresi oleh juxtaglomerulus aparantus ginjal sebagai responglomerulus underperfusion atau penurunan asupan garam, ataupun respon dari sistem saraf simpatetik.
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I-converting enzyme (ACE). ACE memegang peranan fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi hati, yang oleh hormon renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi angiotensin I (dekapeptida yang tidak aktif). Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II (oktapeptida yang sangat aktif).20 Angiotensin II berpotensi besar meningkatkan tekanan darah karena bersifat sebagai vasoconstrictor19melalui dua jalur, yaitu:
a. Meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis) sehingga urin menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya. Untuk mengencerkan, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian instraseluler. Akibatnya volume darah meningkat sehingga meningkatkan tekanan darah.
b. Menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang berperan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah.
1) Sisten Saraf Otonom
Sirkulasi sistem saraf simpatetik dapat menyebabkan vasokonstriksi dan dilatasi arteriol. Sistem saraf otonom ini mempunyai peran yang penting dalam pempertahankan tekanan darah. Hipertensi dapat terjadi karena interaksi antara sistem saraf otonom dan sistem renin-angiotensin bersama – sama dengan faktor lain termasuk natrium, volume sirkulasi, dan beberapa hormon.
2) Disfungsi Endotelium
Pembuluh darah sel endotel mempunyai peran yang penting dalam pengontrolan pembuluh darah jantung dengan memproduksi sejumlah vasoaktif lokal yaitu molekul oksida nitrit dan peptida endotelium. Disfungsi endotelium banyak terjadi pada kasus hipertensi primer. Secara klinis pengobatan dengan antihipertensi menunjukkan perbaikan gangguan produksi dari oksida nitrit.
3) Substansi vasoaktif
Banyak sistem vasoaktif yang mempengaruhi transpor natrium dalam mempertahankan tekanan darah dalam keadaan normal. Bradikinin merupakan vasodilator yang potensial, begitu juga endothelin. Endothelin dapat meningkatkan sensitifitas garam pada tekanan darah serta mengaktifkan sistem renin-angiotensin lokal. Arterial natriuretic peptide merupakan hormon yang diproduksi di atrium jantung dalam merespon peningkatan volum darah. Hal ini dapat meningkatkan ekskresi garam dan air dari ginjal yang akhirnya dapat meningkatkan retensi cairan dan hipertensi.
4) Hiperkoagulasi
Pasien dengan hipertensi memperlihatkan ketidaknormalan dari dinding pembuluh darah (disfungsi endotelium atau kerusakan sel endotelium), ketidaknormalan faktor homeostasis, platelet, dan fibrinolisis. Diduga hipertensi dapat menyebabkan protombotik dan hiperkoagulasi yang semakin lama akan semakin parah dan merusak organ target. Beberapa keadaan dapat dicegah dengan pemberian obat anti-hipertensi.
Hipertropi ventrikel kiri menyebabkan ventrikel tidak dapat beristirahat ketika terjadi tekanan diastolik. Hal ini untuk memenuhi peningkatan kebutuhan input ventrikel, terutama pada saat olahraga terjadi peningkatan tekanan atrium kiri melebihi normal, dan penurunan tekanan ventrikel.
5. Diagnosis
Diagnosis hipertensi tidak dapat ditegakkan dalam satu kali pengukuran, hanya dapat ditetapkan setelah dua kali atau lebih pengukuran pada kunjungan yang berbeda, kecuali terdapat kenaikan yang lebih tinggi atau gejala-gejala klinis. Pengukuran tekanan darah dialakukan dalam keadaan pasien duduk bersandar, setelah beristirahat selama lima menit, dengan ukuran pembungkus lengan yang sesuai (menutupi 80% lengan). Tensimeter dengan air raksa masih tetap dianggap alat pengukur yang terbaik.
Anamnesis yang dilakukan meliputi tingakat hipertensi dan lama menderitanya, riwayat dan gejala-gejala penyakit yang berkaitan seperti penyakit jantung koroner, gagal jantung, penyakit serebrovaskuler dan lainnya. Dalam pemerikasaan fisik dialkukan pengukuran tekanan darah dua kali atau lebih dengan jarak 2 menit, kemudian diperiksa ulang pada lengan kontralateral. Dikaji berat badan dan tinggi pasien. Kemudian dilakukan pemeriksaan funduskopi untuk mengetahui adanya retinopati hipertensif, pemeriksaan leher untuk mengetahui bising carotid, pembesaran vena atau kelenjar tiroid. Dicari tanda-tanda Secara umum, faktor risiko terjadinya hipertensi yang teridentifikasi antara lain :
a. Keturunan
Dari hasil penelitian diungkapkan bahwa jika seseorang mempunyai orang tua atau salah satunya menderita hipertensi maka orang tersebut mempunyai risiko lebih besar untuk terkena hipertensi daripada orang yang kedua orang tuanya normal (tidak menderita hipertensi). Adanya riwayat keluarga terhadap hipertensi dan penyakit jantung secara signifikan akan meningkatkan risiko terjadinya hipertensi pada perempuan dibawah 65 tahun dan laki – laki dibawah 55 tahun.
b. Usia
Beberapa penelitian yang dilakukan, ternyata terbukti bahwa semakin tinggi usia seseorang maka semakin tinggi tekanan darahnya.. Hal ini disebabkan elastisitas dinding pembuluh darah semakin menurun dengan bertambahnya usia. Sebagian besar hipertensi terjadi pada usia lebih dari 65 tahun. Sebelum usia 55 tahun tekanan darah pada laki – laki lebih tinggi daripada perempuan. Setelah usia 65 tekanan darah pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Dengan demikian, risiko hipertensi bertambah dengan semakin bertambahnya usia.
c. Jenis kelamin
Jenis kelamin mempunyai pengaruh penting dalam regulasi tekanan darah. Sejumlah fakta menyatakan hormon sex mempengaruhi sistem renin angiotensin. Secara umum tekanan darah pada laki – laki lebih tinggi daripada perempuan. Pada perempuan risiko hipertensi akan meningkat setelah masa menopause yang mununjukkan adanya pengaruh hormon.
d. Merokok
Merokok dapat meningkatkan beban kerja jantung dan menaikkan tekanan darah. Menurut penelitian, diungkapkan bahwa merokok dapat meningkatkan tekanan darah. Nikotin yang terdapat dalam rokok sangat membahayakan kesehatan, karena nikotin dapat meningkatkan penggumpalan darah dalam pembuluh darah dan dapat menyebabkan pengapuran pada dinding pembuluh darah. Nikotin bersifat toksik terhadap jaringan saraf yang menyebabkan peningkatan tekanan darah baik sistolik maupun diastolik, denyut jantung bertambah, kontraksi otot jantung seperti dipaksa, pemakaian O2 bertambah, aliran darah pada koroner meningkat dan vasokontriksi pada pembuluh darah perifer.
· Obesitas
Kelebihan lemak tubuh, khususnya lemak abdominal erat kaitannya dengan hipertensi. Tingginya peningkatan tekanan darah tergantung pada besarnya penambahan berat badan. Peningkatan risiko semakin bertambah parahnya hipertensi terjadi pada penambahan berat badan tingkat sedang. Tetapi tidak semua obesitas dapat terkena hipertensi. Tergantung pada masing – masing individu. Peningkatan tekanan darah di atas nilai optimal yaitu > 120 / 80 mmHg akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler. Penurunan berat badan efektif untuk menurunkan hipertensi, Penurunan berat badan sekitar 5 kg dapat menurunkan tekanan darah secara signifikan.
· Stress
Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalaui saraf simpatis yang dapat meningkatkan tekanan darah secara intermiten. Apabila stres berlangsung lama dapat mengakibatkan peninggian tekanan darah yang menetap. Pada binatang percobaan dibuktikan bahwa pajanan terhadap stres menyebabkan binatang tersebut menjadi hipertensi.
· Aktifitas Fisik
Orang dengan tekanan darah yang tinggi dan kurang aktifitas, besar kemungkinan aktifitas fisik efektif menurunkan tekanan darah. Aktifitas fisik membantu dengan mengontrol berat badan. Aerobik yang cukup seperti 30 – 45 menit berjalan cepat setiap hari membantu menurunkan tekanan darah secara langsung. Olahraga secara teratur dapat menurunkan tekanan darah pada semua kelompok, baik hipertensi maupun normotensi.
Gangguan gangguan irama dan denyut jantung, pembesaran ukuran, bising, derap dan bunyi jantung ke tiga atau keempat. Paru diperiksa untuk mencari ronki dan bronkospasme. Pemeriksaan abdomen dilakukan untuk mencari adanya masa, pembesaran ginjal dan pulsasi aorta yang abnormal. Pada ektrimitas dapat ditemukan pulsasi perifer yang menghilang, edema dan bising. Dilakukan pula pemeriksaan neurology.
Perhimpunan nefrologi Indonesia memilih klasifikasi sesuai WHO/ISH karena sederhana dan memenuhi kebutuhan, tidak bertentangan dengan strategi terapi, tidak meragukan karena memiliki sebaran luas dan tidak rumit, serta terdapat pula unsur unsure sistolik yang juga penting dalam dalam penentuan.
Klasifikasi sesuai WHO/ISH
| Klasifikasi | Sistolik (mmHg) | Diastolic (mmHg) |
| Normotensi | <140 | <90 |
| Hipertensi ringan | 140-180 | 90-105 |
| Hipertensi perbatasan | 140-160 | 90-95 |
| Hipertensi sedang dan berat | >180 | >105 |
| Hipertensi sistolik terisolasi | >140 | >90 |
| Hipertensi sistolik perbatasan | 140-160 | <90 |
Hipertensi sistolik terisolasi adalah hipertensi dengan tekanan sistolik sama atau lebih dari 160 mmHg. Keadaan ini berbahaya dan memiliki peranan sama dengan hipertensi diastolic, sehingga harus diterapi.
Klasifikasi pengukuran tekanan darah berdasarkan The Sixth Of The Joint National Commite On Prevention, Detection, Evaluation, And Treatment Of High Blood Presure, 1997.
| Katagori | Sistolik(mmHg) | Diastolic(mmHg) | Rekomendasi |
| Normal | <130 | <85 | Periksa ulang dalam 2 tahun |
| Perbatsan | 130-139 | 85-89 | Periksa ulang dalam 1 tahun |
| Hipertensi tingkat 1 | 140-159 | 90-99 | Konfirmasi dalam 1 atau 2 bulan Anjuarkan modifikasi gaya hidup |
| Hipertensi tingkat 2 | 160-179 | 100-109 | Evaluasi atau rujuk dalam 1 bulan |
| Hipertensi tingkat 3 | ≥ 180 | ≥ 110 | Evaluasi atau rujuk segera dalam 1 mingguberdasrkan kondisi klinis |
Catatan : pasien tidak sedang sakit atau minum obat antihipertensi. Jika tekanan sistolik dan diastolic berada dalam katagori yang berbeda, masukkan kedalam katagori yang lebih tinggi.
6. Pemerikasaan Diagnostik
1. Hemoglobin/hematrokit : bukan diagnostic tetapi mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat menginsikasikan factor-faktor resiko seperti hiperkoaagulabilitas, anemia.
2. BUN/Kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi /fungsi ginjal.
3. Glukosa : hiperglikemia (DM adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan peningkatan ketoalamin (meningkatkan hipertensi).
4. Kalsium serum : peningkatan kadar kalium serum dapat meningkatkan hipertensi
5. Kalium serum : hipokalemia dapat mengindikasikan adanya aldosteron utama (penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretic.
6. Kolesterol dan trigleserida serum : peningkatan kadat dapat mengidikasikan adanya pembentukan plak ateromatosa.
7. Pemriksaan tiroid : hipeartiroidisme dapat menimbulkan vasokontriksi dan hipertensi.
8. Urinalisa : darah, protein, glukosa mengisayaratkan disfungsi ginjal dan / adanya diabetes.
9. VMA urin (metabolit ketoalamin) : kenaikan dapat mengidikasikan adanya adanya feokromositoma (penyebab) : VMA urin 24 jam dilakukan untuk pengkajian feokromositoma bila hipertensi hilang timbul.
10. Asam urat : hiperurisemia telah menjadi implikasi sebagai factor resiko terjadimya hipertensi.
11. Steroid urin : kenaikan dapat mengindikasikan hiperadrenalisme, feokromositoma, atau difungsi pituitary, sindrom cushing, kadar urin dapat meningkat.
12. Foto thorak : dapat menunjukkan obstruksi pada area katup, deposit pada dan/ takik aorta, batu ginjal/ureter.
13. CT Scan : mengkaji tumor serebral, CSU, enselopati, atau feokromositoma.
14. ECG : dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan konduksi. Luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
7. Penatalaksanaan
Tujuan deteksi dan penatalakasanaan hipertensi adalah merunkan resiko penyakit kardiovaskuler dan mortabilitas serta morsibitas yang berkaitan. Tujuan terapi adalah mencapaidan mempeartahankan tekanan sistolik dibawah 140 mmHg dan tekanan diastolic dibawah 90 mmHg dan mengontrol factor resiko. Hal ini dapat dicapai melalui modifikasi gaya hidup saja, atau dengan obat antihipertensi.
Kelompok resiko dikategorikan menjadi :
1. Pasiien dengan tekanan darah perbatasan, atau tingkat 1, 2 atau 3 tanpa gejala penyakit kardiovaskuler, kerusakan organ, factor resiko lainnya. Bila dengan modifikasi gaya hidup tekanan darah belum dapat diturunkan maka harus diberikan obat antihipertensi.
2. Pasien tanpa penyakit kardiovaskuler atau kerusakan organ lainnya, tapi memiliki satu atau lebih factor resiko yang tertera diatas, namun bukan diabaetes militus. Jika terdapat beberapa factor maka harus langsung diberikan obat antihipertensi.
3. Pasien dengan gejala klinis penyakit kardiovaskuler atau kerusakan organ jelas.
Factor resiko : usia lebih dari 60 tahun, merokok, disiplidemia, DM, jenis kelamin (pria atau wanita menopause), riwayat penyakit kardiovaskuler dalam keluarga.
Kerusakan organ atau penyakit kardiovaskuler : penyakit jantung (hipertrofi ventrikel kiri, infark miokard, angina pectoris, gagal jantung, riwayat revaskularisasi koroner, strok, TIA, nefropati, penyakit arteri perifer, dan retinopati.
Penatalaksanaan berdasarkan klasifikasi resiko:
| Tekanan Darah | Kelompok Resiko A | Kelompok Resiko B | Kelompok Resiko C |
| 130-139/85-89 | Modifikasi gaya hidup | Modifikasi gaya hidup | Dengan obat |
| 140-159/90-99 | Modifikasi gaya hidup | Modifikasi gaya hidup | Dengan obat |
| ≥160/≥100 | Dengan obat | Dengan obat | Dengan obat |
Modifikasi gaya hidup cukup efektif, dapat menurunkan resiko kardiovaskuler dengan biaya sedikit, dan resiko minimal. Tata laksana ini tetap dianjurkan meski harus dsertai obat antihipertensi karena dapat menurunkan jumlah dan dosis obat.
Langkah-langkah yang dianjurkan untuk:
· Menurunkan berat badan bila terdapat kelebihan(indeks masa tubuh ≥ 27).
· Membatasi alcohol.
· Meningkatkan aktifitas aerobic (30-45 menit/hari).
· Mengurangi asupan natrium (<100 mmol Na/2,4g Na/6 g NaCl/hari).
· Mempertahankan asupan kalium yang adekuat (90mmol/hari).
· Mempertahankan asupan kalsium dan magnesium yang adekuat.
· Berhenti merokok dan mengurangi asupan lemak jemuh dan kolesterol dalam makanan.
Penatalaksanaan dengan obat antihipertensi bagi sebagian besar pasien dimulai dengan dosis rendah kemudian ditingkatkan secara titrasi sesuai dengan umur, kebutuhan dan usia. Terapi yang optimal harus efektif selama 24 jam, dan lebih disukai dalam dosis tunggal karena kepatuhan lebih baik, lebih murah, dapat mengontrol hpertensi terus-menerus dan lancar, dan melindungi pasien terhadap berbagai resiko dari kematian mendadak, serangan jangtung, atau stroke akibat peningkatan tekanan darah mendadak saat bangun tidur. Sekarang ini terdapat pula obat yang berisi kombinasi dosis rendah obat dari golongan yang berbeda. Kombinasi ini terbukti memberikan efektifitas tambahan dan mengurangi efek samping.
Setelah diputuskan memakai obat antihipertensi dan bila tidak terdapat indikasi untuk memilih golongan obat tertentu, diberikan deuretik atau beta bloker. Jika respon tidak baik dengan dosis penuh, dilanjutkan sesuai algoritma. Dieretik biasanya menjadi tambahan karena dapat meningkatkan efek obat lain. Jika obat kedua dapat mengontrol tekanan darah dengan baik minimal 1 tahun, dapat dicoba menghentikan obat pertama melalui penurunan dosis secara perlahan dan progresif.
Pada beberapa pasien mungkin dapat dimulai dengan terapi dengan lebih dari satu obat secara langsung. Pasien dengan tekanan darah ≥200/≥120 mmHg harus diberikan terapi dengan segera dan jika terdapat gejala kerusakan organ harus dirawat di rumah sakit.
· Pencegahan hipertensi
Resiko seseorang untuk mendapatkan hipertensi dapat dikurangi dengan cara :
– Memeriksa tekanan darah secara teratur
– Menjaga berat badan dalam rentang normal
– Mengatur pola makan, antara lain dengan mengkonsumsi makanan berserat, rendah lemak.
– Hentikan kebiasaan merokok dan minuman beralkohol
– Berolahraga secara teratur
– Hidup secara teratur
– Mengurangi stress dan emosi
– Hentikan kebiasaan merokok dan minuman beralkohol
– Berolahraga secara teratur
– Hidup secara teratur
– Mengurangi stress dan emosi
– Jangan terburu-buru
– Mengurangi makanan berlemak
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas pasien
Nama : RD
Umur : 58 tahun
Agama : Islam
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Wlingi
Suku/bangsa : Jawa/Indonesia
Perkerjaan : Petani
b. Riwayat keperawatan/kesehatan
Keluhan utama
Pasien mengatakan pusing/sakit kepala
Riwayat kesehatan sekarang
Pada tanggal 9 Februari 2006, pada hari kamis pagi bapak RD berangkat kesawah untuk melakukan aktifitasnya sehari-hari, dan ketika pulang diwaktu sore hari dia mulai mengeluh sakit kepala dan leher terasa kaku sekitar pukul 4 sore. Pada waktu itu keadaan umum bapak RD compos mentis, TD 160/90 mmHg, nadi 90x/menit, pernafasan 24x/menit, pasien mengatakan pusing terasa diseluruh bagian kepala, kualitas nyeri sedang dengan sekala nyeri 5, sifat terjadinya nyeri kepala hilang timbul dan lamanya keluhan mulai pukul 3 sore.
Riwayat kesehatan dahulu
Pasien mengatakan pernah menderita hipertensi, pasien pernah berobat di puskesmas 2 bulan yang lalu dan mendapatkan obat antihipertensi yaitu HCT dan dengan tekanan darah 165/90 mmHg. Pasien tidak pernah masuk kerumah sakit. Terkadang pasien membeli obat sendiri untuk mengurngi rasa nyeri yaitu BODREK dan nyeri kepalanya berkurang.
Riwayat kesehatan keluarga
Didalam keluarga pasien terdapat anggota keluarga yaitu ayah bapak RD yang menderita hipertensi dan meninggal dengan penyakit stroke.
c. Genogram
![]() |
Keterangan :
: Laki-laki
: Perempuan
: Kawin
d. Pola fungsi kesehatan
1. Pola persepsi - pemeliharaan kesehatan
Pasien mengatakan bahwa sakit adalah suatu rasa tidak enak pada badan yang membuat kita menjadi tidak nyaman dan pasien mengatakan bahwa kesehatan merupakan suatu keadaan dimana dia dapat melakukan aktifitas tanpa disertai gangguan pada tubuh dan persaannya (rohani). Pasien mengatakan bahwa merokok juga dpat merugikan kesehatan, tetapi pasien merupakan perokok aktif dimana tiap harinya habis ± 8 batang rokok.
2. Pola aktivitas - latihan
Kemampuan pasien dalam menata dirinya sebelum dan selama sakit adalah
| Aktifitas | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
| Makan | √ | | | | |
| Mandi | √ | | | | |
| Berpakean | √ | | | | |
| Toileting | √ | | | | |
| Tingkat mobilitas ditempat tidur | √ | | | | |
| Berpindah | √ | | | | |
| Kemampuan ROM | √ | | | | |
| Berjalan | √ | | | | |
| Kekuatan otot | √ | | | | |
Keterangan :
0 : Mandiri
1 : Menggunakan alat Bantu
2 : Dibantu orang lain
3 : Dibantu orang dan peralatan
4 : ketergantungan/tidak mampu
Selama sakit pasien mengatakan tidak dapat melakukan aktifitas rutinnya yaitu pergi ke sawah karena rasa sakit pada kepalanya dan ia merasa lemas/ malaise.
3. Pola nutrisi dan metabolisme
Sebelum sakit, pasien mengatkan bahwa sebelum sakit pasien makan 3x sehari dengan porsi 1 piring yang isinya nasi, sayur, tempe, tahu, kerupuk dan ayam terkadang juga makan nasi pecel. Pasien minum sehari ± 7 gelas/hari, kadang-kadang pasien minum kopi pada pagi hari. Pasien telah menerapkan intruksi diet rendah garam.
Selama sakit, pasien tidak mengalami perubahan nafsu makan atau pola makan, frekuensi makan tetap 3x/hari, minum ± 6x/hari dan pasien tidak merasakan adanya mual mual dan muntah.
4. Pola eliminasi
Sebelum sakit, pasien mengatakan bahwa dalam BAB biasbnya 1-3x sehari dengan konsistensi feses lembek dengan warna kuning dan BAK 3-5x sehari dengan warna kuning.
Selama sakit, pasien mengatakan bahwa dalam BAB frekuensinya 1-3x sehari dengan konsistensi lembek dan berwarna kuning. Dan BAK 3-4 kali sehari dengan warna kuning
5. Pola tidur-istirahat
Sebelum sakit, pasien mengatakan pasien jarang melakukan tidur siang keculi dalam keadaan lelah/mengalami kelelahan. Biasanya pasien tidur malam mulai pukul 21.00 WIB sampai pukul 04.30 WIB dam lamanya tidur pasien ± 8,5 jam.
Selama sakit pasien mengatakan merasa sulit memasuki awal tidur karena nyeri kepala, terkadang terbangun pada malam hari dan ketika bangun tidur nyeri kepala berkurang. Dan lamanya tidur ± 6 jam dan awal tidur malam mulai pukul 22.00 dan bangun pada pukul 04.00.
6. Pola kognitif – perceptual
Pasien selama sakit mampu berkkomunikasi dan mengerti apa yang sedang dibicarakan, berespon dan berorientasi dengan baik dengan orang lain. Terdapat gangguan persepsi sensorik berupa nyeri pada dareah kepala.
7. Pola toleransi - koping stress
Selama menyelesaikan masalah pasien selalu terbuka dengan anggota keluarga yang lain sehingga ketika ada masalah selalu dipecahkan bersama terutama dengan istrinya dan anak-anaknya.
8. Persepsi diri/konsep diri
Pasien mengatkan bahwa ia merasa tenang menghadapi masalahnya karena ia percaya bahwa semua masalah pasti ada jalan keluarnya dan kepercayaan terhadap anak-anaknya yang dapat menggantikan perannya sewaktu menyelelesaikan masalah yang terdapat dirumah. Tetapi meskipun demikian pasien juga merasa cemas terhadap penyakitnya apakah bisa sembuh dengan total dan tidak terjangkit lagi.
9. Pola hubungan dan peran
Hubungan pasien dengan keluarga baik dan dengan masayarakta sekiter juga baik.
10. Pola nilai dan keyakinan
Sebelum sakit, pasien mengatakan bahwa ia dalam menjalankan ibadah/sholat tidak secara rutin dilakukan. Selama sakit, sama seperti yang dilakukan sebelum sakit.
e. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umum
Pasien tampak memegang kepalanya, ia mengatakan kepalanya terasa pusing dan lehernya terasa kaku dan ekpresi wajahnya terlihat menahan rasa nyeri kepala. Pasien dalam keadaan kompos mentis.
2. Pemeriksaan tanda vital
Nadi : 90x/menit dengan irama regular, cepat agak lemah
Tekanan darah : 160/90 mmHg
Pernafasan : 24x/menit, irama teratur, suara vesikuler
Suhu tubuh : 36,8ºC
3. Pemriksaan kulit dan rambut
Kulit : Sianosis (-), ikterus (-), pucat (-), turgor baik, edema (-).
Rambut : Warna hitam keputihan, distribusi merata tidak botak dan lebat.
4. Pemriksaan kepala dan leher
Kepala : Mata, reflek pupil (+), konjungtiva tidak anemis, kornea tidak ikterik. Telinga, pada daun telinga, liang telinga, membrane timpani, mastoid tidak ada tanda adanya peradangan dan terlihat bersih, pendengaran baik. Mulut, bibir gusi dan lidah radang (-), tidak memakai gigi pasangan, kondisi gigi terdapat caries. Hidung, tidak terdapat polip, sekrer/lendir (-).
Leher : Pasien mengatakan lehernyatersa kaku, massa (-), nyeri telan (-).
5. Pemeriksaan dada
Paru-paru : Bentuk dada simetris, pergerakan nafas teratur, suara nafas vesikuler.
Jantung : denyut nadi agak cepat dan iramanya regular/teratur, frekuensi 90x/menit, tidak ada suara jantung tambahan. Tekanan darah 160/90 mmHg.
6. Pemeriksaan abdomen
Tidak ada lesi pada dinding/kulit perut, ketegangan dinding perut (-), nyeri tekan (-), bising usus …….., peristaltic………..
7. Ektrimitas
5 5
f. Pemriksaan penunjang
2. Analisa data
| Symtom | Etiologi | Problem |
| DS : *Pasien mengatakan bahwa kepala terasa sakit/nyeri kepala. *Pasien mengatkan lehernya terasa kaku DO : Ekspresi wajah terlihat menahan sakit TD : 160/90 mmHg Nadi : 90x/menit | Peningkatan tekanan vaskuler serebral. | Nyeri Akut |
| DS : *Pasien mengatakan ia tidak dapat pergi kesawah untuk melakukan aktifitas rutinnya karena merasa lemah/malaise (perubahan kebiasaan). *Pasien merasa kawatir penykitnya tidak dapat sembuh (perasaan takdir terancam/impending doom) DO : Denyut nadi cepat tapi agak lemah dengan frekuensi 90x/menit. TD : 160/90 mmHg | Exchange problem atau gangguan sirkulasi (vasokontriksi) | Ketidakefektifan perfusi jaringan |
3. Prioritas masalah
1. Nyeri akut berhubungan dengan peningakatan tekanan vaskuler serebral ditandai dengan nyeri kepala, tekanan darah 160/90 mmHg.
2. Ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan exchange problem/gangguan sirkulasi.
4. Intervensi
| Tanggal | No. Dx | Tujuan | Intervensi | Rasional |
| 9-2-2006 | 1 | Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam nyeri kepala pasien berkurang Dengan criteria hasil : 2. Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala atau sakit kepala terkontrol. 3. Mengungkapkan metode yang menberikan pengurangan. | 1. Berikan tindakan non farmakologi untuk menghilangkan sakit kepala. Misalkan kompres dingin pada dahi pinjat punggung dan leher, tenang, redupkan lampu kamar, teknik relaksasi (distraksi) dan aktivitas waktu senggang 2. Hilangkan minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala misalkan: mengejang saat BAB, batuk panjang, membungkuk. 3. Anjurkan pasien untuk tirah baring selama fase akut. 4. Kurangi adanya kurang pengetahuan (jelaskan sebab-sebab nyeri dan lama nyeri bila diketahui). 5. Kolaborasi pemberian analgesic (antalgin, asam mefenamat). | 1. Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral dan memperlambat atau memblok respon simpatis, efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya. 2. Aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kapala karena adanya peningkatan tekanan vaskuler serebral. 3. Meminimalkan stimulasi atau meningkatkan relaksasi. 4. Meningkatkan pengetahuan 5. Menurunkan atau mengontrol nyeri dan menurunkan rangsang sistim saraf simpatis. |
| 9-2-2006 | 2 | Setelah dilakuakan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam kondisi pasien menunjukkan perfusi jaringan yang membaik. Dengan criteria hasil : 1. Tekanan darah dalam batas-batas yang dapat diterima 2. Tidak ada keluhan sakit kepala, pusing 3. Nilai laboratorium dalam batas-batas normal 4. Tanda-tanda vital stabil | 1. Monitor tekanan darah, nadi apical dan neurologis 2. Pertahankan tirah baring pada posisi semi fowler sampai tekanan darah dipertahankan pada tingkat yang dapat diterima. 3. Anjurkan tidak menggunakan rokok atau nikotin. 4. Kolaborasi pemberian obat-obatan antihipertensi misal golongan inhibitor simpa (propanolol, atenolol), golongan vasodilator (hidralazin) | 1. Untuk mengevalusi perkembangan penyakit dan keberhasilan terapi 2. Tirah baring membantu menurunkan kebutuhan oksigen, posisi duduk meningkatkan aliran darah ateri berdasarkan gaya grafitasi, konstruksi arteriol pada hipertensi menyebabkan peningkatan darah pada arteri. 3. Meningkatkan vasokontriksi. 4. Golongan inhibitor secara umum menurunkan tekanan darah melalui efek kombinasi penurunan tahanan perifer, menurunkan curah jantung, menghambat syaraf simpatis, dan menekan pelepasan rennin. Golongan vasodilator berfungsi untuk merilekkan otot polos vaskuler. |
5. Implementasi
| Tanggal/jam | No. Dx | Implementasi | Respon | Ttd |
| 9-2-2006 19.00 | 1 | 1. Memijat punggung dan leher 2. Mengajarkan teknik relaksasi (nafas dalam, mengalihkan nyeri dengan mendengar musik) 3. Menganjurkan pasien untuk tidak terlalu mengejan saat BAB, membungkuk, dan batuk panjang 4. Menjelaskan penyebab nyeri dan waktu munculnya nyeri | 1. Pasien mengatakan merasa nyaman dan enak 2. Pasien masih belum begitu sempurna dalam melakukan teknik relaksasi nafas dalam 3. Pasien mengerti dan paham bahwa tindakan tearsebut dapat meningkatkan nyeri/dakit kepala. 4. Mengerti dan paham penyebab dan munculnya nyeri | |
| 9-2-2006 19.00 | 2 | 1. Mengukur tekanan darah, nadi, suhu dan pernafasan pasien 2. Menganjurkan pasien untuk beristirahat denga posisi semifowler 3. Menganjurkan pasien tidak merokok 4. Menganjurkan pasien pada 10-2-2006 untuk pergi kedokter. | 1. Tekanan darah 160/90 mmHg Nadi 90x/menit lemah agak cepat Suhu 36,8ºC Pernafasan 24x/menit. 2. Menerima, paham dan melakukan mengapa tindakan ini dilakukan. 3. Mengerti dan paham tentang akibat dari merokok 4. Pasien berencana untuk pergi kedokter | |
| 10-2-2006 09.00 | 1 | 1. Memijat punggung punggung, leher, telapak tangan dan dahi pasien. 2. Mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam. 3. Menganjurkan pasien untuk mandi dengan air hangat. | 1. Pasien mengatakan merasa nyaman dan enak dan rasa nyeri kepala telah berkurang 2. Pasien mulai dapat melakukannya dengan baik. 3. Pasien pahan dan mengerti kegunaan dari mandi dengan air hangat. | |
| | 2 | 1. Mengukur tekanan darah, nadi, suhu dan pernafasan pasien 2. Menganjurkan pasien untuk beristirahat denga posisi semifowler 3. Menganjurkan pasien tidak merokok 4. Menganjurkan pasien pada 10-2-2006 untuk pergi kedokter. | 1. Tekanan darah 145/90 mmHg Nadi 95x/menit lemah agak cepat Suhu 36,5ºC Pernafasan 24x/menit. 2. Menerima, paham dan melakukan mengapa tindakan ini dilakukan. 3. Mengerti dan paham tentang akibat dari merokok 4. Pasien berencana untuk pergi kedokter jam 14.00 tanggal 10 | |
| 10-2-2006 19.30 | 1 | 1. Memijat punggung, leher, telapak tangan dan dahi pasien. 2. Mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam. 3. menganjurkam pada pasien untuk meredupkan lampu ketika akan tidur. 4. Memberikan obat analgesic (anastan/asam mefenamat) kolaborasi dengan dokter. | 1. Pasien merasa nyaman dan merasa enakan, nyeri kepala/ sakit kepala berkurang. 2. Pasien dapat melakukan teknik relaksasi nafas dalam dengan baik. 3. Menerima | |
| | 2 | 1. Mengukur tekanan darah, nadi, suhu dan pernafsan pasien. 2. Menganjurkan pasien untuk beristirahat dengan posisi semifowler 3. Kolborasi dokter memberikan obat HCT | 1. Tekanan darah 130/80 mmHg Nadi 80x/menit lemah agak cepat Suhu 36,5ºC Pernafasan 24x/menit. 2. Menerima, paham dan melakukan, mengapa tindakan ini dilakukan. | |
| 11-2-2006 | 1 | 1. Memijat punggung, leher, telapak tangan dan dahi pasien. 2. Mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam dan pengalihan persepsi nyeri dengan mendengarkan musik. 3. Menganjurkan pasien untuk mandi dengan air hangat. 4. Memberikam obat anastan | 1. Pasien merasa nyaman, merasa enakan, dan pasien mengatakan nyeri kepala/ sakit kepala sudah hilang. 2. Pasien dapat melakukan teknik relaksasi nafas dalam dengan baik. 3. Pasien mengatakan bahwa tiap pagi mandi denga air hangat | |
| | 2 | 1. Mengukur tekanan darah, nadi, suhu dan pernafsan pasien. 2. Menganjurkan pasien untuk beristirahat dengan posisi semifowler 3. Memberikan pendidikan kessehatan pada pasien tentang maknan yang harus dikurangi kdarnya dalam makanan yaitu garam dan kebiasaan yang memperburuk kesehatan seperti merokok. 4. Kolborasi dokter memberikan obat HCT | 1. Tekanan darah 125/80 mmHg Nadi 80x/menit lemah agak cepat Suhu 36,5ºC Pernafasan 24x/menit. 2. Menerima, paham dan melakukan, mengapa tindakan ini dilakukan. 3. Pasien paham dan mengerti tentang pendidikan kesehatn yang telah dismapaikan. | |
5. Evaluasi
| Tanggal | No. Dx | Catatan Perkembangan | Ttd |
| 11-2-2006 | 1 | S : Pasien mengatakan bahwa nyeri kepala telah hilang dan ia merasa nyaman. O : Pasien memperlihatkan dapat melakukan teknik relaksasi nafas dalam dengan baik Pasien menampakkan wajah yang segar dan tidak menunjukkan exspresi menahan nyeri. A : Gangguan nyeri kepala telah teratasi (tujuan tercapai) P : Kunjungan rumah dihentikan | |
| | 2 | S : Pasien mengatakan bahwa badan sudah mulai segar kembali dan sakit kepala telah hilang O : Tekanan darah 125/80 mmHg Suhu 36,5ºC Nadi 80x/menit Pernafasan 24x/menit A : Perfusi jeringan menunjukkan efektif (tujuan tercapai) P : Kunjungan rumah dihentikan. | |
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hipertensi sebagai suatu tingkat tekanan darah, dimana komplikasi yang mungkin timbul menjadi nyata. Ada beberapa beberapa pendapat lain yang berusaha untuk menjelaskan definisi hipertensi, diantarannya :
· Hipertensi didefinisikan oleh “joint national committee on detection, evaluation and treatment of high blood pressure (JNC)” sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya, mempunyai rentang dari tekanan darah normal tinggi sampai hipertensi maligna. Keadaan ini dikatagorikan sebagai primer/esensial (hampir 90% dari semua kasus) atau sekunder, terjadi sebagai akibat dari kondisi patologis yang dapat dikenali seringkali dapat diperbaiki.
· Menurut WHO, hipertensi adalah kenaikan tekanan darah diatas atau sama 160/95 mmHg.
Menurut penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi dua yaitu:
1. Hipertensi Primer atau Esensial.
Banyak factor yang mempengaruhi seperti genetic, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatis, sistim rennin angiostensin, defek dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca Intraseluler dan factor-faktor yang meningkatkan resiko seperti obesitas, alcohol, merokok serta polisetemia.
2. Hipertensi Sekunder atau Hipertensi Renal
Hipertensi ini dapat diketahui penyebabnya dan biasnya disertai keluhan atau gejala-gejala dari penyakit yang menyebabkan hipertensi tersebut. Penyakit yang dapat menyebabkan hipertensi ini misalnya :
Tanda dan gejala
Sakit kepala, vertigo, perdarahan retina, gangguan penglihatan, proteinuria, hematuria, tachhicardi, palpitasi, pucat dan mudah lelah.
B. Saran
Tekanan darah tinggi yang disebut hipertensi sudah sangat umum para penderita umumnya tidak menyadari bahwa merekan menderita hipertensi. Tetapi bila dibiarkan tanpa perawatan maka itu akan menimbulkan kerumitan yang membahayakan. Saran dengan adanya hal ini adalah
- Sehingga perlu diadakannya pendidikan kesehatan pada masyarkat tentang pola hidup yang sehat bagaiamana cara mencegah sedini mungkin resiko terjadinya hipertensi.
- Pendidikan kesehatan tentang ilmu gizi sangat perlu sekali bagi masyarakat yang telah terkena penyakit hipertensi sehingga gaya hidup mereka tetap sehat meskipun dengan penyakit hipertensi.
DAFTAR PUSTAKA
PRICE, Syilvia Anderson, 1995, Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit, EGC Jakarta
Corwin, Elizabeth J, 2000, Buku saku patofisiologi, EGC Jakarta
Doenges, Marilynn E, 1999, Rencana asuhan keperawatan: pedoman untuk perencanaandan perwatan pasien, EGC Jakarta
Nanda, International, 2005, Nursing Diagnosis : Definition & Classification, Philadelphia



Tidak ada komentar:
Posting Komentar