RENNY LISDIANA SARIDEWI
E/KP/VI
04.08.2126
TB PARU
A. PENGERTIAN
TB Paru adalah suatu penyakit infeksi dan menular yang menyerang paru-paru yang disebabkan oleh kuman Micobacterium tuberkulosis.
B. ETIOLOGI
Jenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1 – 4 m dan tebal antara 0,3 – 0,6 m. Sebagian besar kuman berupa lemak/lipid sehingga kuman ini tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap fisik dan kimiawi. Sifat lain dari kuman ini adalah aerob yang menyukai daerah yang banyak oksigen, dalam hal ini lebih menyenangi daerah yang tinggi kandungan oksigennya yaitu daerah apikal paru, daerah ini menjadi prediksi pada penyakit paru.
C. TANDA DAN GEJALA
Pada stadium dini penyakit TBC biasanya tidak tampak adanya tanda dan gejala yang khas. Biasanya keluhan yang muncul adalah :
1. Demam : sub fibril, fibril ( 40 – 410C ) hilang timbul.
2. Batuk : terjadi karena adanya iritasi pada bronkus; batuk ini membuang / mengeluarkan produksi radang, dimulai dari batuk kering sampai batuk purulent ( menghasilkan sputum ).
3. Sesak nafas : terjadi bila sudah lanjut dimana infiltrasi radang sampai setengah paru.
4. Nyeri dada : ini jarang ditemukan. Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Gejala ini timbul apabila sistem persarafan di pleura terkena.
5. Malaise : ditemukan berupa anoreksia, berat badan menurun, sakit kepala, nyeri otot dan keringat di waktu di malam hari.
D. PATOFISIOLOGI
Individu yang rentan,menghirup basil tuberculosis dan menjadi terinfeksi. Bakteri dipindahkan melalui jalan nafas ke alveoli, tempat dimana mereka terkumpul dan mulai untuk memperbanyak diri. Basil juga dipindahkan malalui system limfe dan aliran darah ke bagian tubuh lainnya(ginjal,tulang,korteks serebri), dan area paru-paru lainnya(lobus atas).
System imun tubuh berespon dengan melakukan reaksi inflamasi. Fagosit (neutrofil dan makrofag) menelan banyak bakteri: limfosit spesifik-tuberkulosis melisis(menghancurkan) basil dan jaringan normal. Reaksi jaringan ini mengakibatkan penumpukan eksudat dalam alveoli, menyebabkan bronkopneumonia. Infeksi awal biasanya terjadi 2 sampai 10 minggu setelah pemajanan.
Masa jaringan baru, yang disebut granulomas, yang merupakan gumpalan basil yang masih hidup dan yang sudah mati,dikelilingi oleh makrofag yang membentuk dinding protektif .granulomas diubah menjadi masa jaringan fibrosa.bagian sentral dari massa fibrosa ini disebut tuberkel ghon.bahan (bakteri dan makrofag)menjadi nekrotik ,membentuk masa seperti keju .massa ini dapat mengalami klasifikasi ,membentuk skar kolagenosa.bakteri menjadi dorman ,tanpa perkembangan penyakit aktif.
Setelah pemajaan dan infeksi awal,indifidu dapat mengalami penyakit aktif karena gangguan atau respon yang inadekuat dari respon system imun.penyakit aktif dapat juga terjadi dengan infeksi ulang dan aktifasi bakteri dorman. Dalam kasus ini ,tuberkel ghon memecah melepas kan bahan seperti keju ke dalam bronchi. Bakteri kemudian menjadi tersebar di udara ,mengakibatkan penyebaran penyakit lebih jauh. Tuberkel yang memecah menyembuh ,membentuk jaringan parut . paru yang terinfeksi menjadi lebih membengkak ,mengakibatkan terjadinya bronkopneumonia lebi lanjut,pem
Bentukan tuberkel,dan selanjutnya.
Kecuali proses tersebut dapat dihentikan,penyebarannya dengan lambat mengarah ke bawah ke hilum paru paru dan kemudian meluas ke lobus yang berdekatan . proses mungkin berkepanjangan dan ditandai oleh remisi lama ketika penyakit dihentikan ,hanya supaya diikuti dengan periode aktivitas yang diperbaharui. Hanya sekitar 10% individu yang awalnya terinfeksi mengalami penyakit aktif.
E. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat timbul akibat tuberkulosis terjadi pada sistem pernafasan dan di luar sistem pernafasan. Pada sistem pernafasan antara lain menimbulkan pneumothoraks, efusi pleural, dan gagal nafas, sedang diluar sistem pernafasan menimbulkan tuberkulosis usus, meningitis serosa, dan tuberkulosis milier.
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK DAN PENATALKSANAAN
a. Pemeriksaan Diagnostik
1. Kultur sputum
Positif jika ditemukan mikobakterium tuberkulosis dalam stadium aktif pada perjalanan penyakit.
2. Ziehl-Neelsen (pewarnaan terhadap sputum)
Positif jika ditemukan bakteri tahan asam.
3. Skin test (PPD, Mantoux, Tine, Vollmer patch)
Reaksi positif (area indurasi > 10 mm timbul 48 – 72 jam setelah injeksi antigen intra kutan) menunjukkan telah terjadinya infeksi dan dikeluarkannya antibodi tetapi tidak menunjukkan aktifnya penyakit.
4. Rontgen dada
Menunjukkan adanya infiltrasi lesi pada paru-paru bagian atas, timbunan kalsium dari lesi primer atau penumpukan cairan. Perubahan yang menunjukkan perkembangan tuberkulosis meliputi adanya kavitas dan area fibrosa.
5. Pemeriksaan Darah(LED)
LED meningkat membuktikan bakteri aktif
b. Penatalaksanaan
Terapi dilakukan dengan pemberian OAT (Obat Anti Tuberkulosis). OAT harus diberikan dalam kombinasi sedikitnya dua obat yang bersifat bakterisid (isoniazid dan rifampicin) dengan atau tanpa obat ketiga. OAT yang tersedia adalah Isoniazid (H), Rifampicin (R), Etambutol (E), Streptomicin (S), Pirazinamid (Z). Kepatuhan pasien sangat penting untuk kesembuhan total dari kuman Tb.
Panduan OAT dan kategori pada TB paru (WHO 1993)
PANDUAN OAT KLASIFIKASI DAN TIPE PENDERITA FASE AWAL FASE LANJUTAN
Kategori I - BTA (+) baru
- BTA (-) luar paru 2HRZS(E)
2HRZS(E) 4RH
4R3H3
Kategori II Pengobatan Ulang:
- Kambuh BTA(+)
- Gagal
2RHZES/1RHZE
2RHZS/1RHZE
5RHE
5R3H3E3
Kategori III - TB Paru BTA(-)
- TB luar paru 2RHZ
2RHZ/2R3H3Z3 4RH
4R3H3
Keterangan :
2HRZ = tiap hari selama 2 bulan
4RH = tiap hari selama 4 bulan
4H3R3= 3 kali seminggu selama 4 bulan
G. PROSES KEPERAWATAN
A. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d sekresi yang banyak.
2. Kerusakan pertukaran gas b/d perubahan membrane kapiler-alveoli.
3. Intoleransi aktivitas b/d keletihan,perubahan nutrisi,dan demam.
4. Nyeri akut b/d agen cidera biologi(nyeri dada)
5. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh.
6. Kurang pengetahuan tentang kondisi,pengobatan,dan pencegahan.
B. INTERVENSI
1. Bersihan jalan napas tidak efektif
Tujuan: Mempertahankan jalan napas pasien. Mengeluarkan sekret tanpa bantuan. Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas. Berpartisipasi dalam program pengobatan sesuai kondisi. Mengidentifikasi potensial komplikasi dan melakukan tindakan tepat.
Intervensi:
a. Kaji fungsi pernapasan: bunyi napas, kecepatan, imma, kedalaman dan penggunaan otot aksesori.
Rasional: Penurunan bunyi napas indikasi atelektasis, ronki indikasi akumulasi secret/ketidakmampuan membersihkan jalan napas sehingga otot aksesori digunakan dan kerja pernapasan meningkat.
b. Catat kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk efektif, catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis.
Rasional : Pengeluaran sulit bila sekret tebal, sputum berdarah akibat kerusakan paru atau luka bronchial yang memerlukan evaluasi/intervensi lanjut.
c. Berikan pasien posisi semi atau Fowler, Bantu/ajarkan batuk efektif dan latihan napas dalam.
Rasional : Meningkatkan ekspansi paru, ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan peningkatan gerakan sekret agar mudah dikeluarkan
d. Bersihkan sekret dari mulut dan trakea, suction bila perlu.
Rasional : Mencegah obstruksi/aspirasi. Suction dilakukan bila pasien tidak mampu mengeluarkan sekret.
e. Pertahankan intake cairan minimal 2500 ml/hari kecuali kontraindikasi.
Rasional : Membantu mengencerkan secret sehingga mudah dikeluarkan
f. Lembabkan udara/oksigen inspirasi.
Rasional : Mencegah pengeringan membran mukosa.
g. Berikan obat: agen mukolitik, bronkodilator, kortikosteroid sesuai indikasi.
Rasional : Menurunkan kekentalan sekret, lingkaran ukuran lumen trakeabronkial, berguna jika terjadi hipoksemia pada kavitas yang luas.
h. Bantu inkubasi darurat bila perlu.
Rasional: Diperlukan pada kasus jarang bronkogenik. dengan edema laring atau perdarahan paru akut.
2. Kerusakan pertukaran gas
Tujuan: Melaporkan tidak terjadi dispnea. Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal. Bebas dari gejala distress pernapasan.
Intervensi
a. Kaji dispnea, takipnea, bunyi pernapasan abnormal. Peningkatan upaya respirasi, keterbatasan ekspansi dada dan kelemahan.
Rasional: Tuberkulosis paru dapat rnenyebabkan meluasnya jangkauan dalam paru-pani yang berasal dari bronkopneumonia yang meluas menjadi inflamasi, nekrosis, pleural effusion dan meluasnya fibrosis dengan gejala-gejala respirasi distress.
b. Evaluasi perubahan-tingkat kesadaran, catat tanda-tanda sianosis dan perubahan warna kulit, membran mukosa, dan warna kuku.
Rasional: Akumulasi secret dapat menggangp oksigenasi di organ vital dan jaringan.
c. Demonstrasikan/anjurkan untuk mengeluarkan napas dengan bibir disiutkan, terutama pada pasien dengan fibrosis atau kerusakan parenkim.
Rasional: Meningkatnya resistensi aliran udara untuk mencegah kolapsnya jalan napas.
d. Anjurkan untuk bedrest, batasi dan bantu aktivitas sesuai kebutuhan.
Rasional: Mengurangi konsumsi oksigen pada periode respirasi.
e. Monitor GDA.
Rasional : Menurunnya saturasi oksigen (PaO2) atau meningkatnya PaC02 menunjukkan perlunya penanganan yang lebih. adekuat atau perubahan terapi.
f. Berikan oksigen sesuai indikasi.
Rasional: Membantu mengoreksi hipoksemia yang terjadi sekunder hipoventilasi dan penurunan permukaan alveolar paru.
3. Intoleransi Aktivitas
Tujuan : Klien menunjukkan kemampuan beraktivitas tanpa tanda dan gejala yang muncul
Intervensi :
a. Evaluasi tanda vital saat kemajuan akitivitas terjadi.
Rasional : mengetahui perubahan suhu,nadi,respirasi, dan tekanan darah.
b. Berikan waktu istirahat diantara waktu aktivitas.
Rasional : tidak terlalu terbebani dengan aktivitas yang berlebihan.
c. Pertahankan penambahan O2 sesuai indikasi.
Rasional : menghindari sesak nafas pada saat aktivitas.
d. Selama aktivitas dispnoe, sianosis, kerja nafas dan frekwensi nafas serta keluhan subyektif.
Rasional : mengetahui perubahan dispnoe, sianosis, kerja nafas dan frekwensi nafas serta keluhan subyektif.
e. Berikan diet TKTP
Rasional : agar dapat menghasilkan energi yang cukup untuk beraktivitas
4. Nyeri Akut
Tujuan :
Intervensi :
a. Catat karakteristik nyeri, lokasi, intensitas, lamanya dan penyebaran.
Rasional : mengetahui karakteristik nyeri,lokasi,intensitas,lamanya,dan penyebarannya
b. Anjurkan kepada klien untuk melaporkan nyeri dengan segera.
Rasional : untuk mempercepat penanganan nyeri.
c. Berikan lingkungan yang tenang, aktivitas perlahan dan tindakan nyaman, dekati pasien, berikan sentuhan.
Rasional : membuat pasien menjadi nyaman.
d. Bantu melakukan tehnik relaksasi.
Rasioanal : mengurangi rasa nyeri.
e. Berikan oksigen tambahan dengan kanula nasal atau masker sesuai dengan indikasi.
Rasional : mengatasi jika ada sesak nafas juga.
f. Kolaborasi dengan tim medis obat yang diberikan.
Rasional : mengurangi nyeri dengan obat yang sesuai atau mempercepat penyembuhan nyeri.
5. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh.
Tujuan: Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratoriurn normal dan bebas tanda malnutrisi. Melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan yang tepat.
Intervensi:
a. Catat status nutrisi paasien: turgor kulit, timbang berat badan, integritas mukosa mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayat mual/rnuntah atau diare.
Rasional: berguna dalam mendefinisikan derajat masalah dan intervensi yang tepat.
b. Kaji pola diet pasien yang disukai/tidak disukai.
Rasional: Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik, meningkatkan intake diet pasien.
c. Monitor intake dan output secara periodik.
Rasional: Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan.
d. Catat adanya anoreksia, mual, muntah, dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi. Awasi frekuensi, volume, konsistensi Buang Air Besar (BAB).
Rasional: Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan masalah untuk meningkatkan intake nutrisi.
e. Anjurkan bedrest.
Rasional: Membantu menghemat energi khusus saat demam terjadi peningkatan metabolik.
f. Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernapasan.
Rasional: Mengurangi rasa tidak enak dari sputum atau obat-obat yang digunakan yang dapat merangsang muntah.
g. Anjurkan makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat.
Rasional: Memaksimalkan intake nutrisi dan menurunkan iritasi gaster.
h. Rujuk ke ahli gizi untuk menentukan komposisi diet.
Rasional: Memberikan bantuan dalarn perencaaan diet dengan nutrisi adekuat unruk kebutuhan metabolik dan diet.
i. Konsul dengan tim medis untuk jadwal pengobatan 1-2 jam sebelum/setelah makan.
Rasional: Membantu menurunkan insiden mual dan muntah karena efek samping obat.
j. Awasi pemeriksaan laboratorium. (BUN, protein serum, dan albumin).
Rasional: Nilai rendah menunjukkan malnutrisi dan perubahan program terapi.
k. Berikan antipiretik tepat.
Rasional: Demam meningkatkan kebutuhan metabolik dan konsurnsi kalori.
6. Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan.
Tujuan: Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan. Melakukan perubahan prilaku dan pola hidup unruk memperbaiki kesehatan umurn dan menurunkan resiko pengaktifan ulang luberkulosis paru. Mengidentifikasi gejala yang mernerlukan evaluasi/intervensi. Menerima perawatan kesehatan adekuat.
Intervensi
a. Kaji kemampuan belajar pasien misalnya: tingkat kecemasan, perhatian, kelelahan, tingkat partisipasi, lingkungan belajar, tingkat pengetahuan, media, orang dipercaya.
Rasional: Kemampuan belajar berkaitan dengan keadaan emosi dan kesiapan fisik. Keberhasilan tergantung pada kemarnpuan pasien.
b. Identifikasi tanda-tanda yang dapat dilaporkan pada dokter misalnya: hemoptisis, nyeri dada, demam, kesulitan bernafas, kehilangan pendengaran, vertigo.
Rasional: Indikasi perkembangan penyakit atau efek samping obat yang membutuhkan evaluasi secepatnya.
c. Tekankan pentingnya asupan diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) dan intake cairan yang adekuat.
Rasional: Mencukupi kebutuhan metabolik, mengurangi kelelahan, intake cairan membantu mengencerkan dahak.
d. Berikan Informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan misalnya: jadwal minum obat.
Rasional: Informasi tertulis dapat membantu mengingatkan pasien.
e. Jelaskan penatalaksanaan obat: dosis, frekuensi, tindakan dan perlunya terapi dalam jangka waktu lama. Ulangi penyuluhan tentang interaksi obat Tuberkulosis dengan obat lain.
Rasional: Meningkatkan partisipasi pasien mematuhi aturan terapi dan mencegah putus obat.
f. Jelaskan tentang efek samping obat: mulut kering, konstipasi, gangguan penglihatan, sakit kepala, peningkatan tekanan darah
Rasional: Mencegah keraguan terhadap pengobatan sehingga mampu menjalani terapi.
g. Anjurkan pasien untuk tidak minurn alkohol jika sedang terapi INH.
Rasional: Kebiasaan minurn alkohol berkaitan dengan terjadinya hepatitis
h. Rujuk perneriksaan mata saat mulai dan menjalani terapi etambutol.
Rasional: Efek samping etambutol: menurunkan visus, kurang mampu melihat warna hijau.
i. Dorong pasien dan keluarga untuk mengungkapkan kecemasan. Jangan menyangkal.
Rasional: Menurunkan kecemasan. Penyangkalan dapat memperburuk mekanisme koping.
j. Berikan gambaran tentang pekerjaan yang berisiko terhadap penyakitnya misalnya: bekerja di pengecoran logam, pertambangan, pengecatan.
Rasional: Debu silikon beresiko keracunan silikon yang mengganggu fungsi paru/bronkus.
k. Anjurkan untuk berhenti merokok.
Rasional: Merokok tidak menstimulasi kambuhnya Tuberkulosis; tapi gangguan pernapasan/ bronchitis.
l. Review tentang cara penularan Tuberkulosis dan resiko kambuh lagi.
Rasional: Pengetahuan yang cukup dapat mengurangi resiko penularan/ kambuh kembali. Komplikasi Tuberkulosis: formasi abses, empisema, pneumotorak, fibrosis, efusi pleura, empierna, bronkiektasis, hernoptisis, u1serasi Gastro, Instestinal (GD, fistula bronkopleural, Tuberkulosis laring, dan penularan kuman.
H. PENCEGAHAN TB PARU
a. Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan suntikan BCG (imunisasi) kepada bayi umur antara 3 s/d 14 bulan
Langkah-langkah dalam rangka memberikan kegiatan imunisasi.
Menganjurkan orang tua bayi agar mau membawa bayinya untuk divaksinasi, serta membantu mengumpulkan bayi-bayi pada hari yang telah ditetapkan di Puskesmas atau ditempat lain.
Menyampaikan daftar bayi-bayi tersebut ke Puskesmas dan meminta petugas imunisasi. Untuk datang melakukan vaksinasi di desa.
b. Peningkatan gizi keluarga
Makan bergizi dapat meningkatkan daya tahan tubuh, sehingga tubuh kita tidak mudah terkena penyakit.
Langkah-langkah dalam peningkatan gizi ini yaitu dengan anjuran :
Memanfaatkan perkarangan (berternak, kolam ikan, bercocok tanam).
Memakan hasil pemanfaatan perkarangan.
Menyediakan makanan yang bergizi untuk dimakan oleh keluarga.
Catatan :
Ludah (air kiur) dari mulut bukan contoh yang baik.
Penderita dianjurkan supaya membersihkan mulutnya (kumur-kumur dan lain-lain) sesudah mengeluarkan dahak.
c. Peningkatan kesehatan lingkungan
Kuman Tb akan mati kalau terkena sinar matahari, sabun. Langkah-langkah dalam peningkatan kesehatan lingkungan yaitu dengan anjuran :
Membuat dan mengusahakan rumah sedemikian rupa sehingga sinar matahari dan udara segar masuk dengan leluasa ke dalam rumah dengan jalan membuka pintu dan jendela terutama pada pagi hari.
Menghindari tidur dalam satu kamar dengan penderita terutama bagi anak-anak, selam 4 minggu pertama pengobatan.
Meludah di tempat khusus yang tertutup, seperti kaleng yang diisi dengan air sabun.
Meningkatkan kebersihan perorangan yaitu:
Mencuci tangan dengan sabun sehabis melayani penderita.
Menutup mulut waktu batuk atau bersin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar